ZONAUTARA.com – Ancaman kiamat nuklir kembali menjadi perhatian setelah kebijakan baru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memaksa negara-negara sekutu mempertimbangkan pembiayaan sistem pertahanan mereka sendiri. Hilangnya keyakinan pada perlindungan nuklir AS terjadi setelah Strategi Pertahanan Nasional terbaru Amerika tidak lagi menyebutkan perluasan pencegahan ancaman. Trump justru mendorong sekutu untuk lebih mandiri dalam mengelola pertahanan.
Peneliti senior di Program Kebijakan Nuklir Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda, menyatakan sekutu AS saat ini melihat Washington sebagai pihak yang tidak terlibat dan tidak dapat diandalkan. “Berbagai rasa otonomi strategis mulai bermunculan,” tuturnya.
Kebijakan Trump termasuk pengurangan latihan militer dengan sekutu seperti Korea Selatan dan pembicaraan tentang nuklir sipil dengan Arab Saudi. Di Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan peningkatan hulu ledak nuklir untuk memperkuat kemerdekaan kawasan, sementara Jepang di bawah PM Sanae Takaichi mempertimbangkan revisi tiga prinsip non-nuklir.
Lithuania dan Finlandia, yang berbatasan dengan Rusia, melanjutkan langkah serupa dengan potensi pembatalan larangan lama senjata nuklir. Peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies, Shounak Set, menyuarakan kekhawatiran bahwa peningkatan keamanan satu negara bisa memicu negara lain untuk bertindak agresif.
Andrew Facini dari Council on Strategic Risks menyoroti risiko mematikan dari perlombaan senjata, dengan meningkatnya ketegangan dan kemungkinan kesalahan perhitungan sebagai ancaman nyata. “Anda tidak dapat membangun atau menyebarkan pencegah nuklir tanpa segera meningkatkan ketegangan dan memaksa musuh untuk bereaksi,” tegas Facini.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

