ZONAUTARA.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada akhir tahun ini. Namun, respons dari pihak Pyongyang tidak bersahabat. Mereka mengisyaratkan persyaratan super ketat walaupun Trump dan Kim dilaporkan memiliki hubungan pribadi yang luar biasa.
Rencana diplomatik ini terjadi setelah Trump memutuskan untuk mengurangi skala latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memperlancar pembicaraan diplomatik baru dengan Pyongyang meskipun tidak ada prospek jelas dari perang enam bulan di Iran. Namun demikian, meskipun ada alasan untuk percaya bahwa Korea Selatan tidak sepenuhnya menentang strategi ini, masih ada keraguan tentang manfaat keamanan dari pengurangan latihan militer tersebut.
Trump dilaporkan mungkin akan hadir di KTT APEC di Shenzhen, China, tahun ini, yang bisa menjadi kesempatan untuk pertemuan langsung jika Korea Utara menyetujui keterlibatan baru. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS memastikan bahwa Washington siap untuk berdialog tanpa prasyarat, dan menekankan komitmen AS terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara.
Namun, Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, menolak dengan tegas kabar adanya pembicaraan baru. Ia menganggap bahwa latihan militer Ulchi Freedom Shield oleh AS masih berlanjut dengan agresif dan menilai kebijakan AS terhadap Korea Utara tetap memusuhi. Sebagai respons, Korea Utara baru saja meluncurkan sekitar 10 rudal balistik ke perairan timurnya.
Menanggapi situasi ini, Profesor Lim Eul-chul dari Universitas Kyungnam, menegaskan bahwa meskipun ada hubungan pribadi yang baik antara Trump dan Jong Un, kepentingan keamanan nasional Korea Utara akan tetap didahulukan. Sementara itu, Peneliti Senior Jenny Town dari Stimson Center mencatat bahwa prasyarat yang diajukan Pyongyang sangat tinggi, mencakup penghapusan elemen permusuhan dari kebijakan AS dan pengakuan atas status nuklir Korea Utara.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

