ZONAUTARA.com – Operasi pencarian dan penyelamatan masih intensif dilakukan di wilayah pegunungan Himalaya perbatasan Nepal dan Tibet (China) setelah banjir bandang dahsyat yang terjadi Rabu (26/8/2026). Bencana yang dipicu runtuhnya gletser ini telah menewaskan sedikitnya 392 orang dan membuat lebih dari 1.300 hingga 1.500 orang hilang, termasuk ratusan wisatawan asing.
Menurut data kepolisian Nepal terkini, setidaknya 389 jenazah ditemukan di delapan distrik, dengan rincian antara lain 132 di Chitwan, 82 di Nawalparasi East, 33 di Dhading, 30 di Gorkha, 28 di Nuwakot, 22 di Tanahun, 17 di Rasuwa, dan 15 di Nawalparasi West. Di sisi Tibet, otoritas China melaporkan 3 orang tewas. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring operasi yang berlanjut.
Lebih dari 900 orang masih dinyatakan hilang di Nepal (termasuk sekitar 500–650 warga asing), sementara di Tibet sekitar 558 orang hilang (termasuk 260 warga asing).
Di antara yang hilang di Nepal terdapat warga India (sekitar 177–288), Amerika Serikat (63–65), Malaysia (51), Ukraina (53), Australia (34–35), Inggris (33), Kanada (25), serta warga negara lain. Tim penyelamat telah menemukan kembali sekitar 100 wisatawan India (sebagian peziarah) dan 25 pekerja China di wilayah terparah sekitar Trishuli.
Penyebab dan kronologi
Bencana terjadi sekitar pukul 08.40 waktu setempat Rabu pagi di kawasan Sungai Bhote Koshi/Lhende Khola yang mengalir ke Sungai Trishuli. Awalnya sempat dilaporkan terkait gempa, namun Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menegaskan bahwa sinyal seismik yang terdeteksi berasal dari runtuhnya gletser yang sangat besar, bukan gempa bumi.
Runtuhan es, batu, dan lumpur memicu banjir bandang yang “meledak seperti bom” menurut kesaksian penyintas, menghancurkan desa-desa, jembatan, jalan, dan infrastruktur hingga puluhan kilometer hilir.
Banjir membawa material lumpur dan puing yang menutupi rumah hingga beberapa lantai, menghancurkan lebih dari 35–40 jembatan, merusak sekitar 40 km jalan, dan mengganggu proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang sungai. Akses ke sejumlah wilayah terisolasi sangat sulit.

Operasi penyelamatan dan bantuan
Pemerintah Nepal mengerahkan lebih dari 7.000–30.000 personel polisi, tentara, dan relawan. Helikopter melakukan puluhan sorti penerbangan, mengevakuasi ratusan orang (termasuk warga asing). Tentara Nepal melaporkan telah menyelamatkan ratusan jiwa, sementara bantuan makanan, obat-obatan, dan tenda mulai disalurkan.
PBB, melalui koordinator residensi di Nepal, menyatakan pemerintah telah membentuk dana bantuan. Bank Dunia, India, China, dan Amerika Serikat berkomitmen memberikan dukungan sekitar US$229 juta.
PBB juga melepaskan dana darurat sebesar US$2 juta untuk bantuan medis, tempat tinggal, dan air bersih. UNICEF mencatat sekitar 17.000 anak terdampak, dengan minimal 14 anak di antara korban tewas.
Ancaman banjir susulan
Otoritas bencana Nepal memperingatkan bahwa danau yang terbentuk akibat bendungan alami dari puing-puing di Sungai Bhote Koshi terus naik dan berisiko jebol.
Di sisi China, sekitar 3 juta meter kubik air (setara 1.200 kolam renang olimpiade) diperkirakan mengalir ke danau yang sudah terbendung dalam tiga hari ke depan, meningkatkan risiko jebol.
Ahli dari Tribhuvan University memperingatkan kemungkinan longsor tambahan dalam 1–2 hari ke depan. Warga dan petugas diminta menjauh dari bantaran sungai.
Dampak dan respons internasional
Bencana ini memutus konektivitas di wilayah yang populer bagi peziarah Hindu menuju Gunung Kailash dan trekking. Listrik dan komunikasi di sejumlah area terganggu. China mengerahkan ratusan personel pencarian di Gyirong, sementara negara-negara yang warganya hilang (termasuk AS, Inggris, India, Kanada, Australia) aktif berkoordinasi dengan otoritas Nepal.
Hingga Jumat pagi (28/8/2026) waktu setempat, operasi pencarian masih berlanjut di tengah kondisi medan yang sangat sulit dan ancaman cuaca. Jumlah korban dipastikan masih akan diperbarui seiring temuan jenazah dan penyintas baru.
(Berita ini disusun berdasarkan laporan dari Reuters, Associated Press, BBC, The Guardian, The Independent, dan media internasional lainnya)

