ZONAUTARA.com – Tokoh Dayak dan Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR) Panglima Jilah menegaskan bahwa praktik berladang masyarakat adat di Kalimantan berlangsung selama ribuan tahun dan bukan penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi belakangan ini. Menurut Panglima Jilah, pola berladang masyarakat Dayak berbeda dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan karena mereka tidak membuka ladang di lahan gambut.
Panglima Jilah menjelaskan dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, bahwa masyarakat Dayak tidak berladang di lahan gambut. “Orang Dayak tidak berladang di lahan gambut. Gambut itu tebal asapnya, gambutnya tebal, 12 meter,” kata Panglima Jilah, Jumat (28/8).
Ia menambahkan bahwa praktik berladang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kalimantan sejak lama. “Sebelum adanya perkebunan ya, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan. Dan tidak pernah kita melihat namanya kejadian-kejadian yang seperti ini,” ujarnya.
Panglima Jilah menegaskan bahwa lokasi berladang masyarakat adat umumnya berada di lahan mineral, bukan gambut, dan ada mekanisme pengawasan ketat dari masyarakat adat itu sendiri. “Jadi kalau kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita yang akan monitoringnya,” imbuhnya.
Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuan Panglima Jilah dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, dimana persoalan karhutla di Kalimantan Barat dibahas termasuk dukungan personel, pembuatan hujan, dan penambahan helikopter untuk penanganan karhutla.
Diolah dari laporan CNN Indonesia – Nasional.

