ZONAUTARA.com – Perdebatan seputar rencana Amerika Serikat menempatkan senjata nuklir di Eropa kembali mencuat di NATO. Sekarang, Polandia menjadi fokus diskusi terkait partisipasinya dalam program “nuclear sharing” NATO, yang kembali menjadi bahan perdebatan setelah munculnya isu kemungkinan Polandia bergabung dalam program tersebut.
Sebagai informasi, saat ini hanya ada sembilan negara di dunia yang memiliki program senjata nuklir mereka sendiri, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Selain ketiga negara tersebut, Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki telah menjadi tuan rumah bagi bom nuklir gravitasi B61 milik AS sebagai bagian dari skema “nuclear sharing” yang dibentuk sejak era Perang Dingin.
Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Pawel Zalewski, telah mengonfirmasi bahwa negaranya tidak berencana untuk menampung hulu ledak nuklir AS. “Tidak. Saya ingin menegaskan hal ini secara sangat jelas dan terbuka: Polandia tidak menginginkan hulu ledak nuklir berada di wilayahnya,” kata Zalewski setelah bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan, Elbridge Colby, sebagaimana dikutip oleh Newsweek pada Selasa (1/9/2026).
Pernyataan Zalewski tersebut mendapatkan kritik dari oposisi politik yang berafiliasi dengan Presiden Polandia, Karol Nawrocki. Kepala Biro Kebijakan Internasional Nawrocki, Marcin Przydacz, menggambarkan pernyataan Zalewski sebagai “aneh, tidak masuk akal,” dan bertentangan dengan kebijakan Polandia. “Polandia juga menginginkan adanya hulu ledak di wilayahnya,” kata Przydacz.
Penempatan senjata nuklir AS di Polandia dinilai dapat meningkatkan keamanan NATO di kawasan timur Eropa. Analis Institut Urusan Internasional Polandia, Artur Kacprzyk, menyebutkan bahwa partisipasi Polandia dalam skema tersebut dapat menyampaikan pesan bahwa AS dan NATO siap mempertimbangkan respons senjata nuklir jika terjadi serangan terhadap sayap timur aliansi. Namun, keputusan ini juga berisiko memicu eskalasi ketegangan dengan Rusia.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

