ZONAUTARA.com – Sebuah studi arkeozoologi terbaru mengungkap dinamika perubahan ekonomi dan pola makan di Inggris pada masa Abad Pertengahan. Melalui analisis ribuan spesimen tulang hewan dari berbagai situs arkeologi, peneliti berhasil merekonstruksi transformasi sistem peternakan dan konsumsi dari era Anglo-Saxon hingga setelah Penaklukan Norman pada 1066.
Riset ini menelaah sisa-sisa tulang ternak seperti sapi, domba, babi, hingga unggas dan menunjukkan bagaimana perubahan politik berpengaruh langsung pada sistem produksi pangan. Pada awal Anglo-Saxon, masyarakat pedesaan mengonsumsi ternak secara lokal dengan pola pemanfaatan serba guna. Akan tetapi, setelah Penaklukan Norman, terjadi komersialisasi pertanian secara nyata.
Permintaan daging di pusat perkotaan yang bertumbuh memacu sistem peternakan berskala besar dan terspesialisasi. Analisis tulang menunjukkan peningkatan signifikan proporsi tulang domba dan sapi dewasa di situs perkotaan pasca-abad ke-11, menandakan pemeliharaan hingga tua untuk produk sampingan.
Domba dipelihara dalam jumlah besar guna mendukung industri wol Inggris yang menjadi komoditas ekspor utama ke Eropa. Sementara, sapi tua dimaksimalkan sebagai hewan pekerja sebelum disembelih guna memenuhi kebutuhan daging di kota.
Temuan ini juga menunjukkan stratifikasi sosial makin tajam. Di pemukiman kelas atas dan kastil Norman, ditemukan proporsi tulang hewan buruan dan unggas muda lebih tinggi, simbol status dan kemewahan bangsawan. Bukti berupa struktur tulang dan jejak pemotongan ini menunjukkan bahwa tulang hewan adalah dokumen sejarah penting bagi ekonomi komersial modern di Inggris.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

