ZONAUTARA.com – Ekonomi India mencatat pertumbuhan sebesar 7,8% pada kuartal terbaru, berdasarkan laporan yang dirilis pemerintah, melampaui perkiraan awal sebesar 7%. Namun, angka ini menimbulkan kontroversi setelah mantan Sekretaris Keuangan, Subhash Garg, mengklaim data tersebut dimanipulasi demi menampilkan prestasi yang tidak sesuai kenyataan.
Dalam wawancara dengan Reuters, Garg mengungkapkan bahwa pemerintah sengaja menurunkan angka produk domestik bruto (PDB) harga berlaku tahun lalu untuk ‘menggelembungkan’ angka pertumbuhan tahun ini. “Prestasi luar biasa” seperti dikemukakan oleh Perdana Menteri Narendra Modi tersebut, dinilainya sebagai hasil manipulasi data. Garg berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi riil India sebenarnya hanya mencapai 2,6%.
Kritik terhadap pemerintah India terkait keakuratan data ekonomi telah meningkat, seiring dengan laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memberikan nilai ‘C’ pada data akun nasional India. Penilaian ini didasarkan pada metodologi usang, perbedaan perhitungan yang tidak dapat dijelaskan, serta minimnya pembaruan data musiman.
Ekonom R Nagaraj juga menyoroti tren pemerintah menekan dan menunda survei, serta mengenyahkan pejabat yang kritis. “Tampaknya ada upaya sistematis dari pemerintah untuk menyembunyikan kebenaran,” ujarnya, mengacu pada kejadian saat data PDB India tiba-tiba digelembungkan 108% pada 2014.
Meski demikian, Anggota Dewan Penasihat Ekonomi Perdana Menteri, Shamika Ravi, menepis kritik tersebut sebagai tuduhan bermotif politik. Ia menegaskan bahwa perubahan data dilakukan berdasarkan rekomendasi IMF dan membandingkan kondisi ini dengan peringkat data statistik China.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

