ZONAUTARA.com – Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 tidak hanya berimbas di Jakarta dengan menelan tujuh perwira Angkatan Darat, tetapi juga menyebar ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, Gerakan 30 September menyasar Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono, yang ketika itu merupakan pimpinan Korem 072/Pamungkas.
Kolonel Anumerta Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren, Desa Sumbergiri, Ponjong, Gunungkidul, pada 12 Agustus 1926. Pendidikan guru yang ditempuhnya di Wonosari terhenti karena kedatangan tentara Jepang. Sugiyono kemudian memilih karir militer dengan bergabung di pendidikan tentara PETA (Pembela Tanah Air) dan mulai berkarir sebagai Komandan Peleton.
Penugasan militer Sugiyono berlanjut dengan bergabung di Badan Keamanan Rakyat (BKR) usai proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Seksi I Kompi 2 Batalyon 10 di Yogyakarta serta terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Pada masa revolusi merdeka, Sugiyono bertugas di beberapa daerah, termasuk membantu menumpas pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan.
Menyusul kulminasi kejadian yang dikepalai oleh Letkol Untung pada awal Oktober 1965, Sugiyono bersama Kolonel Katamso diculik dan ditahan oleh pendukung G30S. Mereka dieksekusi pada 2 Oktober 1965 dan jasadnya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965. Atas jasa mereka, pemerintah memberikan kenaikan pangkat dan gelar pahlawan revolusi.
Sebelum peristiwa G30S, Sugiyono dikenal aktif memberikan pelatihan militer kepada resimen mahasiswa khususnya dari kalangan GMNI dan PMKRI, seperti tercatat dalam literatur sejarah.
Diolah dari laporan Tirto.id.

