Kemarau dan El Nino masih picu karhutla beruntun serta krisis air bersih di Sulawesi Utara

BMKG mengingatkan agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar dan berhemat air selama musim kemarau.

Editor: Redaktur
Berbagai unsur terlibat dalam upaya pemadaman karhutla di Minahasa Utara. (Foto: USSU)

ZONAUTARA.com – Puncak musim kemarau yang bertepatan dengan fenomena El Nino kategori sangat kuat memicu serangkaian bencana lingkungan hebat di Provinsi Sulawesi Utara dan sekitarnya.

Kombinasi cuaca ekstrem dan kekeringan panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir tidak hanya meluas menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah, tetapi juga memicu krisis air bersih skala luas yang berdampak langsung pada ribuan kepala keluarga serta sektor pertanian lokal.

Berdasarkan peringatan Stasiun Meteorologi Maritim Bitung Badan Meteorologi, Climatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi atmosfer saat ini membuat wilayah Sulawesi Utara menjadi jauh lebih kering dari biasanya.

BMKG mengidentifikasi empat potensi dampak utama dari kemarau ekstrem ini, yakni lonjakan karhutla, risiko kebakaran di permukiman, penurunan kualitas udara, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih secara drastis.

Dampak kekeringan ekstrem ini tercermin dari maraknya titik api di berbagai wilayah. Kepolisian Daerah Sulawesi Utara bahkan mencatat akumulasi kejadian karhutla di wilayah hukumnya telah mencapai 370 kejadian dengan luasan area terdampak mencapai ribuan hektare.




kemarau
Prediksi kekeringan di wilayah Sulut untuk Dasarian III September 2026. (Grafis: Zonautara.com)

Di Kabupaten Kepulauan Talaud, karhutla melanda Desa Pampalu, Kecamatan Beo Selatan, pada Selasa (29/9). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa kobaran api menghanguskan sedikitnya 7 hektare lahan. Upaya pemadaman terkendala oleh tiupan angin kencang di lokasi serta keterbatasan peralatan penanganan.

Sementara itu, di Kabupaten Minahasa Utara, kebakaran lahan kian mengkhawatirkan setelah kobaran api dilaporkan merembet hingga ke kawasan Hutan Lindung Klabat.

Situasi karhutla yang belum mereda ini membuat Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara memperpanjang status tanggap darurat bencana. Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, meminta agar seluruh skema penanganan dan personel di lapangan ditingkatkan serta diperkuat secara masif.

Kejadian karhutla juga sempat melanda Kabupaten Minahasa, tepatnya di Desa Sea, Kecamatan Pineleng. Laporan yang masuk ke BNPB pada Senin (28/9) menyebutkan area terbakar di lokasi tersebut mencapai 19,92 hektare.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa kobaran api di Desa Sea akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh petugas gabungan pada Selasa (29/9).

Di samping ancaman karhutla, kemarau berkepanjangan yang telah berlangsung hampir tiga bulan ini memicu krisis air bersih yang merata di sejumlah daerah pemukiman dan pusat pertanian.

Di Kota Manado, Pemerintah Kota bergerak cepat mendistribusikan air bersih bagi ribuan kepala keluarga (KK) yang terdampak. Lurah Mapanget Barat, Olvin Ngala, mengungkapkan terdapat tujuh lingkungan di wilayahnya yang mengalami kesulitan parah untuk memperoleh air bersih guna kebutuhan dasar harian.

Pemkot Manado dengan dukungan armada tangki PDAM serta personel TNI terus mengalirkan bantuan air bersih secara berkesinambungan.

“Pemkot melalui PDAM menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan dan mengalami krisis air bersih,” ujar Wali Kota Manado, Andrei Angouw.

Bantuan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mendasar warga seperti memasak dan minum, sembari pemerintah memantau secara berkala perkembangan di wilayah-wilayah krisis.

kemarau
Upaya pemadaman karhutla di Minahasa Utara. (Foto: USSU)

Krisis air bersih

Krisis air bersih juga melemahkan aktivitas pertanian di Kabupaten Minahasa. Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, turun langsung meninjau lahan pertanian yang terdampak kemarau di Desa Parepei, Kecamatan Remboken, pada Rabu (30/9).

Dalam kunjungan tersebut, Vanda berdialog langsung dengan Kelompok Tani Lepo Weru serta mendampingi kegiatan penyiraman dan penanaman cabai rawit.

”Jadi seperti kita ketahui bersama bahwa kita mengalami musim kemarau ini sudah hampir 3 bulan, dan tentu sektor pertanian yang ada di Kabupaten Minahasa terdampak,” kata Vanda Sarundajang.

Sebagai langkah penanganan darurat pertanian, Pemkab Minahasa melalui Dinas Pertanian yang dipimpin Plt. Kepala Dinas Pertanian Minahasa Christin Moniung-Tampaguma meminjamkan dua unit pompa air selama satu bulan bagi kelompok tani yang memiliki akses sumber air terdekat, serta mengerahkan mobil tangki air PDAM.

Pemkab Minahasa juga mengajukan permohonan bantuan alat dan mesin pertanian seperti traktor dan pompa air kepada Kementerian Pertanian RI guna solusi jangka panjang.

Respon darurat krisis air bersih juga digencarkan oleh unsur militer di wilayah kepulauan. Kodim 1312/Talaud mengelar aksi sosial penyaluran air bersih secara serentak di wilayah teritorialnya sejak Selasa (29/9), berdasarkan instruksi Surat Telegram Pangdam XIII/Merdeka.

Dandim 1312/Talaud, Letkol Arh Yanuar Yudistira, S.T., menegaskan bahwa aksi cepat ini merupakan komitmen nyata TNI untuk membantu masyarakat yang terdampak El Nino.

“Pendistribusian air bersih di lapangan berjalan aman, lancar, dan tepat sasaran. Kami memastikan bantuan ini menjangkau pemukiman warga yang paling terdampak kemarau,” tegas Letkol Arh Yanuar Yudistira.

Langkah ini pun mendapat apresiasi tinggi dari warga lokal, salah satunya Arya, warga Melonguane, yang mengaku sangat terbantu dengan pasokan air bersih dari prajurit TNI.

Menghadapi tingginya potensi bencana akibat puncak musim kemarau ini, BNPB bersama BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan.

BMKG mengingatkan warga agar sama sekali tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghemat penggunaan air bersih.

Kecepatan masyarakat dalam melaporkan potensi titik api melalui jalur kedaruratan menjadi kunci utama dalam mencegah timbulnya bencana karhutla dan krisis lingkungan yang lebih meluas.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com