ZONAUTARA.com – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) resmi meluncurkan Buku Braille Seri Edukasi Kesehatan Reproduksi untuk Penyandang Disabilitas Netra. Peluncuran ini dilakukan dalam acara Puncak Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia 2026 yang diadakan di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, pada hari Rabu (7/10/2026).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan bahwa pemberian edukasi kesehatan reproduksi memerlukan pendekatan yang khusus sesuai dengan kelompok usia dan kondisi, termasuk bagi penyandang disabilitas. “Hari ini kita ada kegiatan rangkaian untuk Hari Kontrasepsi Sedunia, kebetulan tema yang diangkat tahun ini adalah Informasi Tepat, Pilihan Bijak, Keluarga Sehat, dan yang membedakan adalah hari ini juga ada peluncuran buku untuk akses edukasi kesehatan reproduksi, khususnya bagi penyandang disabilitas netra,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Kikin Tarigan turut menyatakan kebanggaannya atas peluncuran buku ini, menegaskan bahwa langkah itu menjamin hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan pengetahuan, setara dengan warga negara lain. Buku Braille ini disusun oleh Kedeputian Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN bekerja sama dengan Sentra Wyata Guna Bandung Kementerian Sosial, Organisasi Disabilitas Netra, serta para ahli di bidang kesehatan reproduksi.
Pada kesempatan yang sama, buku ini secara simbolis diserahkan kepada berbagai organisasi seperti Komisi Nasional Disabilitas, Yayasan Mitra Netra, dan Persatuan Tunanetra Indonesia. Mahasiswa penyandang disabilitas Muhammad Rayhan menyatakan, “Ketika saya diminta untuk membaca buku tentang kesehatan reproduksi ini, awalnya saya berpikir bahwa ini konten yang sangat tabu… tetapi banyak sekali wawasan yang saya dapat,” ungkapnya dengan antusias.
Selain inisiatif buku braille, Kemendukbangga/BKKBN juga berusaha mewujudkan keluarga berkualitas dengan menjangkau daerah terpencil. Melalui kerja sama dengan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE), layanan kesehatan bergerak disertai edukasi kesehatan reproduksi kini dapat dinikmati masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses. Kolaborasi ini telah dilaksanakan di beberapa lokasi, seperti Pulau Marabatuan dan Batulicin di Kalimantan Selatan, serta Pelabuhan Wani di Sulawesi Tengah.
Diolah dari laporan Detik – Berita.

