ZONAUTARA.com – Gelombang unjuk rasa mahasiswa di ibu kota Albania, Tirana, kembali memanas pada hari kedua aksi penentangan terhadap pemerintah, Rabu (tanggal). Ribuan mahasiswa turun ke jalan menyerang sejumlah gedung pemerintahan, mendesak perbaikan fasilitas universitas dan penyediaan lapangan kerja.
Aksi yang semula berlangsung di depan Kementerian Pendidikan pada Selasa berlangsung damai, namun meningkat menjadi kekerasan keesokan harinya. Massa membakar sebagian gedung Kementerian Pendidikan, serta merusak kantor Perdana Menteri, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, dan beberapa area bisnis di sekitarnya.
Untuk meredakan situasi, polisi anti-huru-hara menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air guna membubarkan kerumunan. Laporan dari lembaga kantor berita resmi Albania menyatakan bahwa sedikitnya 16 orang telah diamankan terkait aksi tersebut.
Seorang mahasiswa pengunjuk rasa, Arber Leshi, menyebut pemerintah sebagai rezim paling korup dalam sejarah negara tersebut. “Pemerintah ini adalah yang paling korup yang pernah dilihat negara kami,” ujar Leshi. Protes yang dikenal sebagai Flamingo Revolution ini merupakan rangkaian aksi antikorupsi yang sudah berlangsung selama beberapa bulan, menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur.
Di pihak pemerintah, Wakil Perdana Menteri Albana Kociu menyerukan agar semua pihak menahan diri. “Ketenangan, penahanan diri, dan kedewasaan sangat diperlukan. Albania tidak perlu dibakar untuk berubah,” tegas Kociu. Sementara itu, Menteri Pendidikan Mirela Kumbaro mengecam aksi perusakan yang terjadi meski menghormati hak untuk berpendapat. “Protes mahasiswa secara damai dan kekerasan terhadap gedung serta fasilitas publik adalah dua hal yang berbeda,” papar Kumbaro.
Di sisi oposisi, Pemimpin Partai Demokratik Albania, Sali Berisha, mengapresiasi keberanian mahasiswa. “Jalan-jalan dan lapangan di Tirana belum pernah melihat singa-singa seperti para mahasiswa ini,” ujar Berisha.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

