ZONAUTARA.com — Kualitas udara menurun di Sulawesi Utara akibat dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari luar daerah. Salah satu wilayah yang terdampak termasuk Kota Bitung.
Tampak terlihat paparan asap kiriman itu masih menyelimuti kota dan mengganggu jarak pandang.
Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bitung, Nabsar Badoa meminta pemerintah daerah tak menganggap sepele dengan dampak asap karhutla.
Legislator PDI Perjuangan itu mendorong Pemkot mengambil langkah antisipatif dengan membagi masker untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.
“Ini perlu diseriusi pemerintah dan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait dengan dampak asap karhutla,” ucap Nabsar, Selasa (20/10/2026).
Ia berharap, langkah antisipatif tersebut dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap yang menyelimuti Kota Bitung, terutama bagi kelompok-kelompok rentan.
“Kami minta pak Walikota Bitung Hengky Honandar mengseriusi ini. Kalau perlu membuat edaran agar siswa belajar dari rumah,” tegasnya.
Kasus ISPA Meningkat, Anak dan Lansia Paling Rentan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bitung dr Pitter Lumingkewas menjelaskan, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat dalam tiga bulan terakhir.
Berdasarkan data yang rangkum di 9 Puskesmas, kata dr Pitter, kasus ISPA pada bulan Juli sebesar 876 kasus, Agustus 1.041 kasus dan September 1.038 kasus.

“Jumlah itu paling banyak anak-anak dan lansia,” kata Pitter saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan.
Dengan kondisi El Nino dan adanya asap karhutla, Pitter meminta masyarakat lebih memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama balita dan lansia serta kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih.
“Apa bila ada masarakat mengalami gejala gangguan pernapasan yang memburuk, diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” katanya.
Indeks Kualitas Udara Memburuk
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung Merianti Dumbela menjelaskan, berdasarkan hasil uji kualitas udara semester I di Kota Bitung, nitrogen oksida (NOx) dan karbon oksida (COx) masih sesuai baku mutu.
Namun, kata Merianti, dalam pengujian tersebut terdeteksi adanya partikel udara yang berukuran lebih kecil atau sering disebut (PM 2.5).
“Partikel PM 2.5 itu biasanya disebabkan oleh proses pembakaran,” kata Merianti.
Dari pemantauan pertikel PM 2.5 pada tiga hari lalu, menurut Merianti angkanya menyentuh 19 µg/m³. Angka tersebut melonjak dari batas aman.
“Dampak dari pencemaran udara ini berimbas memang berpotensi pada lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” tukasnya.

