ZONAUTARA.com – Aktivitas Gunung Api Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, masih berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026. Evaluasi Badan Geologi mencatat 1.130 kali gempa hembusan, 252 gempa guguran, serta luncuran lava yang mencapai jarak sekitar 1.100 meter dari kawah.
“Dalam laporan evaluasi aktivitas Gunung Karangetang periode 1–15 Oktober 2026, Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas gunung api tersebut tetap pada Level II (Waspada). Kata Vieko Rompas, Kepala Pos pengamatan Gunungapi Karangetang. Laporan bernomor 1792.Lap/GL.03/BGL/2026 itu diterbitkan pada 21 Oktober 2026.
Salah satu temuan yang menonjol ialah aktivitas di Kawah Utara atau Kawah II. Selama periode pengamatan, tercatat tujuh kali erupsi, dengan kolom abu berwarna putih hingga kelabu mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas kawah.
Erupsi efusif juga masih berlangsung. Lava dilaporkan meluncur ke sejumlah arah, yakni utara, selatan, barat daya, barat, dan barat laut, dengan jarak sekitar 200 hingga 1.100 meter.
Pada kondisi cuaca cerah, asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal teramati membubung. Tinggi maksimum asap mencapai 1.000 meter di atas puncak. Laporan juga mencatat sinar api setinggi 10 meter.
Gempa Hembusan Mendominasi
Dari pengamatan instrumental selama 15 hari, aktivitas kegempaan Karangetang menunjukkan beragam jenis gempa. Selain 1.130 gempa hembusan dan 252 gempa guguran, tercatat 501 kali tremor harmonik serta 321 kali tremor nonharmonik.
Instrumen juga merekam tujuh gempa erupsi, satu gempa tornillo, enam gempa hybrid atau fase banyak, 15 gempa vulkanik dangkal, 21 gempa vulkanik dalam, empat gempa tektonik lokal, dan 87 gempa tektonik jauh.
Dalam bagian evaluasi, Badan Geologi menyebut peningkatan jumlah gempa hembusan, gempa guguran, tremor harmonik, dan gempa vulkanik dalam selama periode tersebut. Gempa hembusan masih berfluktuasi dengan intensitas tinggi, sementara energi RSAM pada stasiun Arengkambing menunjukkan peningkatan sejak 9 Juli hingga 15 Oktober 2026.
Laporan juga menyebut aktivitas erupsi efusif di Kawah Utara yang berlanjut sejak kejadian erupsi pada 9 Agustus 2026 pukul 22.00 WITA.
Waspadai Lava dan Lahar Hujan
Badan Geologi mengingatkan potensi luncuran lava pijar di sektor barat laut, barat, dan barat daya setelah erupsi Kawah Utara. Ancaman awan panas guguran juga perlu diwaspadai karena kubah lava lama masih berada di puncak dan sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava.
Potensi luncuran lava dari Kawah Utama ke arah barat daya hingga selatan turut menjadi perhatian. Selain itu, hujan deras di kawasan puncak dapat memicu lahar hujan.
‘Berdasarkan evaluasi tersebut, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan beraktivitas atau mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara). Larangan juga berlaku pada jarak 2,5 kilometer di sektor barat daya hingga barat sampai utara dari Kawah Utara,” Imbau Vieko.
Masyarakat di sekitar gunung dianjurkan menyiapkan masker untuk mengantisipasi gangguan pernapasan apabila terjadi hujan abu. Warga yang tinggal di bantaran sungai berhulu dari puncak Karangetang juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman lahar hujan dan banjir bandang.
Masyarakat diminta tetap tenang, tidak terpancing informasi bohong mengenai erupsi, serta mengikuti arahan BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kabupaten Sitaro.
Tingkat aktivitas dan rekomendasi Karangetang akan dievaluasi secara berkala atau apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Ketentuan tersebut tetap berlaku sampai laporan evaluasi berikutnya diterbitkan.

