ZONAUTARA.com – Pemilu Amerika Serikat kini diwarnai oleh pengaruh besar dari kelas miliarder, di mana kekuatan finansial mereka memainkan peran signifikan dalam proses politik. Menurut survei Politico, 72% warga AS merasa jumlah uang yang terlibat dalam politik sudah terlalu besar, dan 61% percaya bahwa miliarder memiliki pengaruh yang berlebihan.
Pada pemilu kali ini, belanja iklan diprediksi mencapai rekor US$11,6 miliar atau sekitar Rp182 triliun, melampaui pengeluaran pemilu presiden 2024. Elon Musk, yang merupakan orang terkaya di dunia, menyumbangkan US$446 juta atau sekitar Rp7 triliun untuk mendukung kampanye Jaksa Agung Texas, Ken Paxton. Di sisi lain, tokoh-tokoh besar Demokrat seperti George Soros dan Michael Bloomberg juga aktif berpartisipasi dengan menyumbangkan masing-masing US$102 juta dan US$80 juta.
Pertarungan tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi merambah ke surat suara daerah seperti di California, di mana situasi pajak kekayaan satu kali menjadi pusat perhatian. Sergey Brin muncul sebagai pemimpin perlawanan terhadap usulan Proposisi 40 dengan menyumbang dana sekitar US$102 juta untuk menolaknya. Emmanuel Saez, seorang ekonom UC Berkeley, melihat Proposisi 40 sebagai simbol pertempuran antara demokrasi dan oligarki.
Sementara retorika antimiliarder semakin populer, ketergantungan partai politik pada dana besar rupanya sulit dihindari. Demokrasi dan kebijakan yang nyata lebih menarik bagi pemilih dibandingkan sekadar serangan terhadap oligarki, seperti yang dijelaskan oleh Jim Kessler dari Third Way.
Sejak keputusan Citizens United pada 2010, jumlah uang yang disalurkan oleh keluarga miliarder dalam politik kian bertambah, dari US$31 juta pada 2010 menjadi lebih dari US$1,7 miliar pada siklus pemilu ini. Miliarder, dengan kekayaan melimpah, tetap menjadi pusat pengaruh dalam politik Amerika.
Diolah dari laporan Media Indonesia.
