ZONAUTARA.com – Insiden tanah longsor telah memutus akses jalan di Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada 5 November 2024, dan hingga kini, jalan yang amblas belum juga diperbaiki. Menurut warga, longsor terjadi ketika pengembang perumahan membangun tandon resapan air di dekat jalan desa yang berbatasan dengan aliran Sungai Cimanceuri dan kawasan Perumahan Villa Rizki Insani.
Terputusnya akses jalan sejak dua tahun lalu sangat mempengaruhi aktivitas serta kondisi lingkungan Perumahan Vila Rizki Insaani. Kendaraan yang sebelumnya melintasi jalan penghubung antardesa kini terpaksa dialihkan melalui jalan dalam perumahan yang semula hanya untuk penghuni. Anton Suryantoro, seorang warga, mengungkapkan keresahan terkait meningkatnya aktivitas kendaraan yang juga memicu beberapa kejadian pencurian.
“Beberapa kejadian sudah terjadi, ada kehilangan sepeda, motor, helm, dan beberapa barang sepatu juga burung peliharaan. Itu yang menjadi keresahan di warga,” kata Anton (28/10/2026).
Selain isu keamanan, tingginya lalu lintas kendaraan di dalam perumahan juga dikhawatirkan membahayakan anak-anak yang beraktivitas di area tersebut. Anton menambahkan, “Iya, karena ada lalu-lalang kendaraan ini, anak-anak juga ada yang sudah terserempet. Terus ketika anak-anak di belakang ini mau pergi mengaji ke musala, mereka juga harus berhati-hati karena banyak kendaraan bermotor yang melintas.”
Rijal Muhammad Fikri, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang, menyebutkan bahwa kajian teknis menunjukkan longsor dipengaruhi oleh kondisi tanah yang tidak stabil dan pembangunan tandon yang tidak tepat.
“Tanahnya enggak stabil. Dia buat tandon sembarangan,” kata Rijal (30/10/2026).
Di tengah kekhawatiran ini, penghuni Perumahan Vila Rizki Insaani melakukan aksi protes pada Jumat, 30 Oktober 2026, di depan kantor pemasaran pengembang. Mereka menuntut tindakan dari pengembang mengenai keamanan dan kenyamanan lingkungan. Arini, salah satu warga, mengungkapkan bahwa meskipun merasa resah, mereka tetap harus membayar cicilan rumah.
Diolah dari laporan Tirto.id.
