ZONAUTARA.com – Penyelidikan terhadap dugaan skema pembelian suara yang melibatkan partai politik Ra’am memicu kegemparan dalam dunia politik Israel. Kasus ini mencuat saat ditemukan sejumlah amplop berisi uang tunai dan surat suara partai tersebut. Penggeledahan yang dilakukan pihak kepolisian mengungkap detil kasus ini, di mana tujuh orang tersangka telah diidentifikasi terkait taktik membayar pemilih tersebut.
Mengutip The Times of Israel, para tersangka diduga terlibat dalam upaya membayar warga agar memberikan suara untuk partai Ra’am. Pada hari pemilihan, tiga orang tersangka telah ditahan, sementara empat lainnya diambil tindakan hukum pada hari Kamis. Menurut pengacara Ali Abu Laban, uang tunai yang ditemukan hanya mencapai 12.000 shekel, dan para tersangka berkeras bahwa uang tersebut digunakan untuk amal.
Penggeledahan ini dilakukan secara tiba-tiba tanpa surat perintah, setelah Kepala Staf Benjamin Netanyahu, Ido Norden, menghubungi pihak kepolisian. Salah satu tersangka merasa diperlakukan tidak adil saat rumahnya digeledah. Pengacara Abu Laban mengecam tindakan ini, memprotes kliennya yang tetap ditahan meski tidak ada uang yang ditemukan saat penggeledahan.
Dalam jalannya kasus ini, Pengadilan Magistrat Bersyeba sempat menempatkan empat tersangka di bawah tahanan rumah. Namun, Sa’id Abu Sa’ad akhirnya dibebaskan setelah upaya banding berhasil. Sementara itu, Pengadilan Distrik Bersyeba memperpanjang penahanan Ibrahim al-Garibi selama dua hari untuk melanjutkan penyelidikan yang diklaim berisiko jika ia dibebaskan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memanfaatkan rangkaian tuduhan ini untuk mempertanyakan keabsahan hasil pemilu yang berlangsung di tengah skandal pembelian suara dan tuduhan campur tangan asing. Ketua Komite Pemilihan Pusat, Justice Noam Sohlberg, menegaskan bahwa pemilu telah dijalankan dengan benar, meskipun mendapatkan kritik dari Partai Likud atas pernyataan tersebut.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.
