ZONAUTARA.com – Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan campuran bahan bakar nabati berupa etanol menjadi 50% atau E50. Namun, upaya ini menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan bahan baku, terutama molase yang saat ini masih dibutuhkan untuk keperluan pertanian dan peternakan dalam negeri. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa sebagian besar molase digunakan di sektor pertanian dan pakan ternak, sehingga memerlukan perhitungan matang agar pemanfaatannya tidak mengganggu pasokan di sektor lain.
Pemerintah sedang membahas skenario konkret untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bioetanol ini dengan melibatkan sejumlah kementerian terkait. Diskusi ini mencakup Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, serta Kementerian Kehutanan. “Sehingga khusus untuk E50, mungkin kita perlu tingkatkan lagi dengan skenario yang berbeda,” ungkap Hanif, Jumat (6/11/2026).
Saat ini, pemerintah juga sedang menghitung kebutuhan lahan untuk mendukung ambisi menghasilkan bioetanol E50. Meski Kementerian Pertanian telah mengindikasikan lokasi untuk pengembangan perkebunan tebu, namun angka kebutuhan lahan belum ditetapkan secara final karena memerlukan pembahasan lintas kementerian. Salah satu opsi yang dikaji adalah penggunaan lahan terdegradasi.
Indonesia memiliki potensi lahan terdegradasi sekitar 9,7 juta hektare, namun harus disesuaikan dengan status kawasan, termasuk lahan yang masuk kawasan hutan. Hanif menegaskan bahwa pemanfaatan lahan ini harus sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto yang melarang konversi hutan alam. Jadi, rencana pengembangan akan diarahkan pada lahan terdegradasi.
Luas lahan yang dapat dipertimbangkan, setelah dikurangi kawasan hutan, masih sekitar enam juta hektare. Hanif menyebut bahwa verifikasi diperlukan terkait estimasi kebutuhan lahan tebu hingga 2 juta hektare untuk E50. Pengembangan ini harus dievaluasi dan dicocokkan dengan berbagai peta sektoral untuk pengambilan keputusan yang tepat.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.
