Sebuah catatan: Dari Kotamobagu ke Jakarta, perjalanan bertanya dan bertumbuh

Jika semua orang terlihat tahu, mengapa saya tetap merasa gelap?

Editor: Neno Karlina Paputungan
Suasana malam di Jakarta, (Foto: Tri Deyna Cahyani).

ZONAUTARA.com –

“Jakarta, Jakarta
Kota keras penuh cerita
Yang kuat yang bertahan
Yang lemah kan tertinggal…”
— Kunto Aji, Jakarta Jakarta

Ketika pertama kali mendengarkan lagu Jakarta Jakarta dari Kunto Aji, saya merasa seperti sedang bercermin. Setiap baitnya seperti kilas balik perjalanan saya, dari Kotamobagu—sebuah kota kecil di Sulawesi Utara yang penuh ketenangan—menuju Jakarta, kota yang katanya tak pernah tidur, tak pernah diam.

Di Kotamobagu, saya tumbuh dalam lingkungan yang terasa aman, akrab, dan bisa ditebak. Tapi justru di sanalah saya merasa mandek. Tidak ada kompetisi sehat, tidak ada ruang bertanya yang terbuka. Orang-orang seolah berlomba bukan untuk berkembang bersama, melainkan sekadar menunjukan siapa yang paling hebat, dengan pencitraan yang nyaring namun kosong.

Sebagai anak muda yang haus akan pengetahuan, saya sering merasa asing. Bukan karena iri, melainkan karena pertanyaan-pertanyaan saya jarang mendapat jawaban yang sebenarnya. Baik dari teman-teman jurnalis lokal maupun pejabat pemerintahan, respon yang saya terima lebih sering seperti penolakan. Seakan pertanyaan seorang anak tidak penting. “Belum waktunya kau tahu,” begitu kira-kira kesan yang saya dapat.




Saya pun sempat bertanya dalam hati, Jika semua orang terlihat tahu, mengapa saya tetap merasa gelap?

Sebuah catatan: Dari Kotamobagu ke Jakarta, perjalanan bertanya dan bertumbuh
Perjalanan menuju kampung kumuh di Jakarta, (Foto: Tri Deyna Cahyani).

Jakarta, tempat yang membenturkan dan membentuk

“Berpacu dalam mimpi
Tak peduli waktu berganti
Terus mencari arti
Walau kadang harus sendiri…”
— Kunto Aji, Jakarta Jakarta

Jakarta bukan kota yang mudah. Dari jauh, ia tampak megah dan menjanjikan. Tapi ketika benar-benar menapakinya, yang pertama terasa adalah debu, bising, dan kelelahan yang tak pernah usai. Semua orang di sini berlomba. Bukan hanya untuk terlihat hebat, tapi untuk bertahan.

Namun, di balik itu saya menemukan sesuatu yang tak pernah saya dapatkan di kampung halaman: ruang untuk bertumbuh.

Pertemuan dengan teman-teman jurnalis dari Magdalene, Kumparan, Suara.com, hingga rekan-rekan Komunitas WMJ membuka mata saya. Mereka bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga mendengarkan, bertukar ide, dan memberi ruang bagi siapa pun untuk bersuara—termasuk saya yang datang dari kota kecil di ujung negeri.

Dari mereka, saya belajar bahwa menjadi cerdas bukan berarti selalu punya jawaban. Kadang, justru dari keberanian bertanya, kita menemukan makna.

Di Jakarta, anak-anak seusia saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang dulu bahkan seorang kepala dinas di Kotamobagu pun tak mampu menjawab. Saya kagum. Saya terpukul. Tapi sekaligus terdorong.

Jakarta tak hanya menawarkan kompetisi, tapi juga keberagaman. Saya melihat teman-teman tuli yang aktif di ruang publik, transgender yang menjadi fasilitator diskusi, orang-orang dengan rambut hijau, sepatu pink, tas bergambar Keropi, dan celana pendek—semua bisa hidup dan berekspresi tanpa takut dihakimi.

Tak ada yang mencemooh. Tak ada yang bertanya kenapa harus berbeda. Saat itulah saya sadar, bukan Jakarta yang keras, tapi kita yang sering kali membangun tembok sebelum mencoba mengerti.

Sebuah catatan: Dari Kotamobagu ke Jakarta, perjalanan bertanya dan bertumbuh
Lancape kolong jembatan, (Foto: Tri Deyna Cahyani).

Dilahirkan kembali di Jakarta

Perspektif saya berubah. Saya bertumbuh. Jakarta melahirkan saya kembali—bukan dari megahnya gedung pencakar langit atau gemerlap lampu malam, melainkan dari sisi yang jarang disorot: lorong-lorong kecil di Kampung Tongkol yang tetap tumbuh, bajai malam yang saya naiki setelah diskusi panjang, hingga percakapan sederhana yang memberi makna besar.

“Jakarta, Jakarta
Membentur, membentuk
Menghantam, menyembuhkan
Dan akhirnya mengajarkan
Bahwa bertahan adalah bentuk lain dari mencintai diri sendiri…”

Saya datang dengan ketakutan sekaligus harapan. Kini, saya tidak lagi hanya mencari jawaban. Saya belajar berdialog, menerima, dan terus mempertanyakan. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah, saya bertumbuh.

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com