ZONAUTARA.com – Di salah satu sudut aula Rumah Dinas Wali Kota Kotamobagu, pada Senin (30/03/2026) pagi itu, sosok lelaki bersahaja tampak terlihat tenang.
Di usianya yang menginjak 80 tahun, sorot matanya masih menyimpan keteguhan yang sama seperti puluhan tahun silam. Dialah H.K. Lapadengan, seorang tokoh adat dari Kelurahan Kotobangon yang hingga kini tetap setia mengabdi.
Waktu seakan tak banyak mengubah ritme pengabdiannya. Sejak dilantik sebagai bagian dari lembaga adat di Kelurahan Kotobangon, pria yang telah menyandang gelar haji ini, memegang peran yang tak sederhana.
Ia menjadi salah satu sosok yang dipercaya menerima sekaligus menindaklanjuti berbagai undangan yang ditujukan kepada Wali Kota Kotamobagu. Tak hanya itu, ia juga kerap berada di garis depan dalam penyambutan tamu-tamu kehormatan.
Di balik peran tersebut, ada rutinitas yang dijalani dengan disiplin. Bersama tiga rekannya, ia masih aktif bertugas dengan sistem bergilir setiap tiga hari. Usia bukan menjadi alasan untuk berhenti, justru menjadi bukti panjangnya dedikasi.
“Sebagian tugas memang sudah saya serahkan kepada generasi muda, tapi saya masih tetap mengawasi,” ujarnya pelan, namun tegas.
Perjalanan pengabdiannya bukan dimulai kemarin. Jauh sebelum aktif di lembaga adat, H.K. Lapadengan telah lebih dulu dikenal sebagai imam Masjid At-Taqwa Kotobangon. Peran itu ia jalani sejak usia 17 tahun, dan bertahan lebih dari enam dekade. Sementara kiprahnya di lembaga adat sendiri telah berlangsung sekitar 40 tahun.
Jika ditotal, pengabdiannya menyentuh angka yang tak sedikit, sekitar 60 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang diwarnai konsistensi dan loyalitas.
Dalam kesehariannya kini, ia menerima upah Rp 2.600.000 per bulan. Namun jelas, angka tersebut bukanlah motivasi utama. Bagi H.K. Lapadengan, pengabdian adalah panggilan yang tak lekang oleh waktu.
Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang masih membuka ruang bagi para lansia untuk tetap berkarya dan berkontribusi.
“Saya mendukung, karena wali kota masih memberdayakan orang yang sudah tua,” katanya, dengan nada penuh syukur.
Di tengah perubahan zaman dan pergantian generasi, H.K. Lapadengan menjadi pengingat bahwa dedikasi tidak mengenal usia. Ia adalah jembatan antara nilai-nilai lama dan semangat baru, tetap berdiri, tetap mengabdi, dan tetap menjadi bagian dari denyut pemerintahan yang terus berjalan.
Harapannya sederhana, agar apa yang telah berjalan baik hari ini, bisa terus ditingkatkan di masa yang akan datang.


