ZONAUTARA.com – Kegiatan belajar-mengajar di sekolah sering kali berlangsung dalam pola yang monoton, di mana guru menyampaikan materi, memberikan penugasan, menilai hasil belajar, dan melanjutkan ke kelas berikutnya. Dalam rutinitas ini, pertanyaan kunci yang jarang diajukan adalah apakah pembelajaran yang berlangsung sudah benar-benar bermakna bagi siswa.
Kebutuhan untuk melakukan refleksi sering terlupakan, padahal refleksi adalah alat bagi guru untuk menata kembali arah pembelajaran. Ketika refleksi dikesampingkan, proses mengajar bisa kehilangan arah, bukan karena kurangnya dedikasi guru, tetapi karena minimnya kesempatan untuk memaknai pengalaman. Farrell (2015) mengatakan refleksi membantu guru menyadari prinsip dan praktik dalam mengajar.
Penting bagi guru dan siswa untuk melakukan refleksi karena ini dapat menjadi proses untuk mengukur pemahaman dan pencapaian diri. Siswa juga bisa melakukan refleksi untuk menilai cara mengajar guru, yang akan menjadi data penting untuk meningkatkan kinerja pengajaran. Refleksi juga mencegah guru memendam kelelahan yang menggerus makna profesinya.
Pelaksanaan refleksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di Sekolah Sukma Bangsa, guru-guru melakukan refleksi secara rutin. Metode refleksi dapat dimulai dengan mendengarkan siswa, yang memungkinkan kedekatan emosional dan pemahaman yang lebih baik. Beed (2005) menyatakan bahwa memberi siswa kesempatan untuk berpikir kritis dan membicarakan pengalaman belajar mereka sangat penting.
Selain itu, refleksi dapat dilakukan dengan cara bermain dan menulis cerita naratif. Permainan seperti ular tangga bisa dimanfaatkan untuk menyisipkan pertanyaan reflektif, sementara menulis cerita memungkinkan siswa untuk mengekspresikan perasaan mereka. Hasil dari semua ini mengarah pada pembelajaran yang lebih terarah dan bermakna.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

