ZONAUTARA.com – Pemadaman listrik yang tidak stabil di Banda Aceh selama dua hari terakhir telah mengundang keluhan dari berbagai pihak, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada peralatan elektronik. Kejadian ini telah mempersulit pelaksanaan usaha dan menyebabkan kerugian akibat cepatnya pembusukan bahan dagangan. Pemadaman terjadi sejak Jumat (22/5/2026) sore dan meskipun listrik kembali menyala pada Sabtu dini hari, namun kembali padam beberapa jam kemudian, menganggu aktivitas masyarakat.
Saifuddin, seorang pedagang jus di Banda Aceh, menyatakan bahwa pemadaman listrik membuatnya kesulitan menjalankan usaha, karena blender dan lemari pendingin sangat tergantung pada tenaga listrik. “Agak susah kalau listrik mati, engga bisa buat jus,” katanya. Menurutnya, buah-buahan yang seharusnya disimpan dalam kulkas cepat busuk saat listrik padam berkepanjangan. “Kalau engga disimpan di kulkas buahnya cepat busuk, rugi kita,” tambahnya. Pom mini yang digunakan untuk menjual BBM eceran juga tidak dapat beroperasi saat listrik padam, sehingga pelanggan yang ingin membeli bahan bakar tidak terlayani. “Ada beberapa orang mau isi minyak, tapi engga bisa karena engga ada listrik,” ujarnya.
Keluhan senada disampaikan Syarifah, penjual olahan buah di Banda Aceh. Ia merasa kesulitan mempertahankan kualitas bahan bakunya karena lemari pendingin tidak berfungsi selama pemadaman berlangsung. “Kulkas engga bisa dipake karena mati lampu, buah jadi cepat busuk,” kata Syarifah.
Pemadaman listrik ini juga mengganggu jaringan internet dan aktivitas kerja masyarakat. Sejumlah warung kopi di Banda Aceh yang memiliki genset tampak dipadati warga untuk mengisi daya perangkat elektronik dan menggunakan akses internet. Mufti, seorang warga Banda Aceh, mengaku harus menyelesaikan pekerjaan di warung kopi yang dilengkapi genset dan layanan internet. “Harus ke warkop yang ada genset dan internet kencang, kalau engga gak bisa kerja,” ujarnya.
Gangguan kelistrikan selama dua hari terakhir ini menjadi perhatian karena berimbas langsung pada kegiatan ekonomi dan pekerjaan harian warga di Banda Aceh.
Diolah dari laporan Tirto.id.

