Telik Sandi dan Kematian Jan Pieterszoon Coen: Versi Berbeda

Kematian Gubernur Jan Pieterszoon Coen diceritakan dalam dua versi: serangan Mataram dan wabah kolera di Batavia.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Tirto.id

ZONAUTARA.com – Jan Pieterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC yang memimpin pada dua periode, meninggal di Batavia pada 20 September 1629. Coen, yang dikenal dengan sebutan Mur Jangkung oleh masyarakat pribumi Batavia, meninggal pada usia 42 tahun. Terdapat dua versi berbeda mengenai penyebab kematiannya.

Versi pertama dibuat oleh Belanda, yang menyatakan bahwa sebelum meninggal, Coen harus menghadapi dua serangan pasukan Mataram pada 1628 dan 1629. Dalam serangan pertama, pasukan Sultan Agung gagal akibat serbuan peluru tinja, sedangkan serangan kedua digagalkan oleh wabah malaria dan kolera. Wabah tersebut bahkan sempat mengotori Sungai Ciliwung, menyebabkan air sungai menjadi beracun dan menyebarkan penyakit di Batavia yang juga merenggut nyawa Coen. Ia dimakamkan di staadhuis plein, yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta di Taman Fatahillah.

Sebaliknya, menurut versi yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi, seperti dijelaskan oleh Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001: 30), Coen tewas akibat serangan pasukan Mataram yang berhasil menyusup ke pertahanannya. Makam yang dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Coen sebenarnya adalah makam orang lain. Sampai hari ini, penggalian yang dilakukan Drs. Chandrian Attahiyat pada 1939 tidak menemukan apa pun di situs tersebut. Di Babad Tanah Jawi tertulis bahwa kepala Coen dipenggal dan dibawa oleh pasukan Mataram ke hadapan Sultan Agung, lalu dikuburkan di makam raja-raja Mataram di Imogiri.

Sultan Agung juga memerintahkan sepupunya, Raden Bagus Wanabaya, untuk mengutus telik sandi guna mendalami kelemahan VOC setelah kegagalan serangan pertama. Wali Mahmudin (Auliamudin), telik sandi dari Samudra Pasai, dan Nyimas Utari, putri Wanabaya, dipercaya untuk mengemban misi tersebut. Mereka menyamar dan membangun pos di sepanjang Kali Sunter. Hubungan profesional mereka berubah menjadi romantis dan mereka menikah. Mulai dari penyamaran sebagai saudagar Aceh hingga pesinden, keduanya berusaha mengumpulkan informasi penting.

Siasat mereka berujung pada fitnah terhadap Pieter Jacobszoon Courtenhoeff, ajudan Coen, dan pembunuhan Eva Ment, istri Coen. Courtenhoeff dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Batavia, sedangkan Sara Specx, putri angkat Coen, dihukum cambuk. Eva Ment, yang tengah hamil, diracun oleh Utari hingga meninggal. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak sebatas menjadi catatan sejarah, melainkan juga menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai kebenaran fakta di balik kematian Jan Pieterszoon Coen.




⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com