ZONAUTARA.com – Akhir pahit harus dialami Arsenal dalam final Liga Champions melawan Paris St-Germain (PSG) ketika penalti Gabriel meleset. Pertandingan yang digelar di Puskas Arena, Budapest ini berakhir dengan kekecewaan bagi sang bek yang harus menerima kenyataan pahit gagal membawa timnya meraih kemenangan.
Kegagalan Gabriel dalam mengeksekusi penalti menjadi momen penentu ketika Arsenal harus menyerah dalam drama adu penalti. PSG sukses mempertahankan gelar mereka. Sebelumnya, manajer Arsenal, Mikel Arteta, mengungkapkan bahwa meski bukan penendang reguler, Gabriel telah mempersiapkan diri untuk mengambil penalti tersebut.
“Dia ingin mengambilnya,” ujar Arteta. “Biasanya penendang penalti adalah Bukayo [Saka], Martin [Odegaard], dan Kai [Havertz]. Namun, kami sudah menduga jika pertandingan berakhir imbang dan harus dilanjutkan dengan adu penalti, pemain lain harus siap.”
Arsenal sempat unggul lebih dulu melalui gol cepat dari Kai Havertz, namun PSG menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele. Pertandingan akhirnya dilanjutkan ke adu penalti setelah Arsenal dan PSG tak ada yang mampu menambah gol.
Eks pemain Arsenal, Matt Upson, pada BBC Radio 5 Live menyamakan momen ini dengan “salah satu momen John Terry”, merujuk kegagalan tendangan penalti Terry saat final Liga Champions 2008. Bek Arsenal ini membuat lebih banyak penyelamatan (13 kali) dibanding pemain lain di lapangan, namun pada akhirnya Arsenal gagal mencetak sejarah ganda Premier League dan Liga Champions sejak tahun 1992.
“Untuk melewatkan penalti di final Liga Champions jelas tidak menyenangkan,” kata Declan Rice, gelandang Arsenal, pada TNT Sports. “Tapi kami tetap mendukung mereka. Setiap pemain pasti pernah mengalami ini.”
Gabriel yang digadang jadi harapan besar Arsenal di musim ini, memulai 48 dari 63 pertandingan yang dijalani Arsenal di semua kompetisi, serta menyumbang sembilan gol dan assist.

