ZONAUTARA.com – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia mengalami tekanan hebat akibat berbagai faktor eksternal seperti perang di Timur Tengah, kenaikan harga energi termasuk gas, serta melemahnya nilai tukar Rupiah dan kenaikan suku bunga. Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), mengungkapkan bahwa kenaikan harga gas saat ini menambah beban berat bagi industri tersebut.
Industri tekstil telah mendapatkan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di USD 7 per MMBTU, namun kuotanya terbatas hanya 65% dari kebutuhan. Sisa kebutuhan harus dipenuhi dengan harga pasar normal yang terus meningkat. Hal ini menyebabkan peningkatan biaya produksi yang akhirnya menekan daya saing produk tekstil dalam negeri.
Produk tekstil dalam negeri semakin sulit bersaing dengan produk impor asal China yang lebih terjangkau. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pelaku industri yang belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi COVID-19.
Kebijakan kenaikan harga gas dan kondisi ekonomi global menjadi pembicaraan utama dalam dialog antara Bunga Cinka dari CNBC Indonesia dengan Redma Gita Wirawasta, dimana beliau menegaskan bahwa tekanan pada biaya produksi ini bukan hanya membebani perusahaan tetapi juga pada akhirnya mengancam keberlangsungan industri secara keseluruhan.
Situasi ini mendesak Asosiasi untuk mencari solusi dan langkah strategis agar industri tekstil nasional dapat tetap bertahan dan bersaing di pasar global.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

