ZONAUTARA.com – Iran sedang menghadapi tekanan energi yang meningkat di saat memasuki musim panas, di tengah ekonomi yang memburuk akibat dampak perang dan keterbatasan ruang fiskal pemerintahnya. Penggunaan pendingin udara dan kebutuhan listrik lainnya yang melonjak telah memperlebar kesenjangan antara pasokan dan konsumsi energi di negara tersebut.
Meskipun pemerintah Iran masih mempertahankan berbagai subsidi energi untuk menjaga tarif listrik, gas, air, dan bahan bakar tetap rendah, kondisi ekonomi yang semakin memburuk membatasi kemampuan pemerintah dalam menopang subsidi tersebut. “Mereformasi dan menaikkan harga energi saat ini tidak layak dan logis karena kondisi ekonomi dan kekhawatiran sosial saat ini,” ujar Wakil Presiden Organisasi Optimalisasi dan Manajemen Strategis Energi Iran, Esmail Saghab Esfahani, seperti dikutip Al Jazeera.
Padahal, Iran memiliki cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia, namun negara tersebut harus kembali mengimpor bahan bakar karena permintaan domestik melampaui kapasitas produksi kilang. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah berulang kali mengimbau masyarakat dan perkantoran untuk menghemat energi. Bahkan, sebagai simbol seruan untuk mengurangi penggunaan pendingin udara berlebihan, ia melepas jaket saat rapat kabinet pekan lalu.
Kebijakan subsidi energi sebenarnya telah lama menjadi penyangga ekonomi rumah tangga Iran. Namun, manfaatnya mulai tergerus oleh kombinasi korupsi, salah urus, sanksi internasional, inflasi kronis, serta pelemahan nilai tukar mata uang. Pemerintah juga harus berhati-hati menaikkan harga bahan bakar, terutama setelah gelombang protes nasional pecah pada 2019 akibat kebijakan kenaikan harga bensin.
Selain itu, tekanan terhadap sektor energi semakin besar setelah serangan terhadap fasilitas energi Iran mengurangi kapasitas produksi bensin harian dari sekitar 115 juta liter menjadi 110 juta liter, sementara konsumsi melonjak hingga sekitar 140 juta liter per hari. Ancaman dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran juga memicu kekhawatiran akan pemadaman listrik dan kekurangan pasokan gas.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

