Penurunan Tanah di Pantura: Jakarta Melambat, Jateng Kritis

Penurunan tanah di Pantura Jawa: Jakarta melambat, Jawa Tengah kritis. Detail pemantauan BRIN dan dampaknya.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Tirto.id

ZONAUTARA.com – Penurunan tanah di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) menunjukkan variasi tren, di mana laju penurunan di Jakarta mulai melambat, sementara wilayah pesisir Jawa Tengah, seperti Demak dan Pekalongan, menghadapi situasi kritis. Berdasarkan pemantauan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penggunaan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) menunjukkan bahwa penurunan tanah di Pantura bervariasi dari kategori sedang hingga kritis, dengan kenaikan muka laut mencapai 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun.

Menurut Prof. Rokhis Khomarudin, Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, “Angka Jakarta memang lebih rendah dibanding Demak atau Pekalongan, namun tetap tergolong signifikan dan berisiko tinggi mengingat kepadatan infrastruktur dan populasi yang jauh lebih besar.” Laju penurunan tanah yang tinggi di beberapa wilayah ini sebagian besar disebabkan oleh sifat dataran aluvial muda yang rentan mengalami pemadatan saat dibebani infrastruktur berat.

Kabupaten Demak merupakan salah satu wilayah yang merasakan dampak terparah. Di Kecamatan Sayung, penurunan tanah rata-rata mencapai 54 mm per tahun, bahkan di titik-titik tertentu bisa mencapai 4 hingga 12 cm. Transformasi kondisi alam di sana telah mengubah permukiman dan lahan pertanian menjadi genangan air laut permanen. Fenomena banjir rob kini menjadi bencana yang berulang, melumpuhkan sebagian besar wilayah pada musim tertentu.

Arso Budiyatno dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak mencatat bahwa dampak banjir semakin diperburuk akibat jebolnya infrastruktur penahan banjir. Penduduk harus beradaptasi dengan keadaan ini yang menjadi masalah kronis setiap tahun. Seiring dengan semakin jarangnya lahan kering, warga diharapkan untuk mengambil tindakan mitigasi yang lebih efektif untuk menahan laju penurunan tanah ini.

Secara keseluruhan, penanganan penurunan tanah dan banjir di Pantura memerlukan kolaborasi sejumlah pihak dengan pendekatan yang memperhatikan aspek lingkungan secara lebih menyeluruh. Wilayah ini diproyeksikan akan mengalami genangan permanen lebih luas jika mitigasi yang tepat tidak segera dilakukan.




Diolah dari laporan Tirto.id.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com