ZONAUTARA.com – Volume air dan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, terus meningkat sampai melampaui bibir tanggul lama. Untuk mencegah luapan, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mengambil tindakan darurat dengan meninggikan tanggul di titik 71 yang terletak di perbatasan Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, dan Kelurahan Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin.
Tiga unit alat berat telah disiapkan, termasuk satu ekskavator yang bekerja intensif untuk menambah tinggi dan mempertebal tanggul guna menahan material lumpur. Misno, mantan warga Kelurahan Siring, mengungkapkan bahwa peninggian tanggul ini sudah dikerjakan sejak akhir pekan lalu karena peningkatan elevasi lumpur.
“Sudah sejak hari Jumat kemarin alat berat bekerja melakukan peninggian tanggul. Sampai hari ini masih terus dikerjakan,” kata Misno kepada awak media, Selasa (9/6).
Misno menjelaskan bahwa ancaman luapan ini disebabkan terhentinya pembuangan material ke luar area tanggul, sehingga air dan lumpur terus tertahan dan meluap melebihi kapasitas eksisting. “Sejak tidak ada pembuangan ke Sungai Porong, permukaan air dan lumpur terus naik. Kalau dibiarkan tentu mengkhawatirkan,” tambahnya.
Usmin, warga Desa Jatirejo, juga mengkonfirmasi peninggian tanggul harus dilakukan untuk mencegah meluapnya lumpur ke pemukiman dan jalur transportasi vital di Jawa Timur. Namun, Usmin khawatir metode pengambilan tanah untuk tanggul terlalu dekat dengan struktur lama yang bisa mengakibatkan kerapuhan.
“Tanah untuk peninggian diambil sangat dekat dengan tanggul lama. Untuk mengantisipasi longsor dipasang penahan dari gedek dan tiang bambu,” jelasnya.
Semburan lumpur yang telah berlangsung selama dua dekade sejak 29 Mei 2006 ini telah menenggelamkan ribuan rumah dan memaksa lebih dari 20 ribu kepala keluarga meninggalkan desa mereka. Belum lagi dampaknya pada kesehatan, pencemaran lingkungan, dan ekonomi lokal yang lumpuh.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

