ZONAUTARA.com – Bank Sentral Amerika Serikat, atau yang dikenal sebagai The Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya sampai akhir 2026. Hal ini berdasarkan hasil jajak pendapat yang melibatkan mayoritas ekonom, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters. Salah satu alasan utama dari prediksi ini adalah inflasi yang dipicu oleh perang menunjukkan tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi dari perkiraan semula.
Para ekonom menilai bahwa inflasi yang persisten telah membuat The Fed harus bersikap lebih hati-hati dalam membuat keputusan terkait kebijakan suku bunga. Inflasi berdampak signifikan terhadap ekonomi, sehingga kebijakan moneter menjadi instrumen penting dalam mengatasi ancaman tersebut.
Rincian lebih lanjut mengenai prediksi ini dibahas dalam program “Squawk Box” di CNBC Indonesia pada Rabu, 10 Juni 2026. Dalam program tersebut, para panelis juga menyoroti bagaimana kebijakan moneter The Fed mungkin akan mempengaruhi ekonomi global, mengingat peran besar Amerika Serikat dalam perekonomian dunia.
Keberlanjutan inflasi ini juga terkait dengan ketidakpastian geopolitik yang mengganggu rantai pasokan global. Konflik yang berkelanjutan telah menyebabkan gangguan dalam distribusi barang-barang vital yang pada akhirnya berimbas pada peningkatan harga secara umum.
Oleh karena itu, kebijakan The Fed menjadi sangat krusial di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks dan dinamis dalam beberapa tahun ke depan.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

