ZONAUTARA.com – Kebersihan lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi banyak wilayah kepulauan, termasuk di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Persoalan sampah, drainase yang tersumbat, hingga menurunnya kualitas lingkungan tidak hanya memengaruhi keindahan kawasan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan risiko bencana.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sitaro mendorong keterlibatan aktif masyarakat melalui Gerakan Indonesia ASRI yang dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah daerah pada Jumat (6/2/2026).
Gerakan tersebut tidak hanya berfokus pada kegiatan bersih-bersih lingkungan, tetapi juga bertujuan membangun kebiasaan baru agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan lahan dan sistem pengelolaan sampah, kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas lingkungan. Sampah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari pesisir, mengganggu ekosistem laut, serta meningkatkan risiko munculnya penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan lingkungan.
Pemerintah daerah menilai upaya menjaga kebersihan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama agar lingkungan tetap bersih dan sehat dalam jangka panjang.
Melalui Gerakan Indonesia ASRI, keterlibatan sekolah, pemerintah kampung, kelurahan, instansi pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan budaya gotong royong yang berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan kegiatan yang bersifat sesaat atau seremonial.
Selain memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat, lingkungan yang bersih juga mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan kenyamanan ruang publik. Hal ini menjadi penting bagi Sitaro yang memiliki potensi wisata alam dan bahari yang membutuhkan dukungan lingkungan yang terjaga.
Bagi masyarakat, manfaat gerakan ini dapat dirasakan secara langsung melalui lingkungan yang lebih sehat, berkurangnya risiko penyakit akibat sampah, serta meningkatnya kesadaran untuk menjaga fasilitas umum dan kawasan permukiman.
Ke depan, tantangan terbesar bukan terletak pada pelaksanaan kegiatan bersih-bersih, melainkan bagaimana menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Karena pada akhirnya, kualitas lingkungan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi oleh perilaku masyarakat yang hidup dan beraktivitas di dalamnya.
Dengan semangat gotong royong dan partisipasi aktif warga, upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Sitaro diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah gerakan, tetapi menjadi budaya yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

