ZONAUTARA.com – Gary Lineker mencetak enam dari tujuh gol Inggris di Piala Dunia 1986, menjadikannya pemain dengan persentase gol tertinggi untuk timnya di turnamen tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah, adakah pemain lain yang memiliki proporsi lebih tinggi dari gol negaranya di Piala Dunia? Dalam hal ini, kita akan mengecualikan tim yang tersingkir di fase grup atau yang hanya mencetak tiga gol atau kurang.
Beberapa nama yang disebutkan adalah Oleg Salenko, penyerang Rusia yang juga mencetak enam dari tujuh gol timnya di Piala Dunia 1994 di AS. Salah satu momen terbesarnya adalah ketika ia mencetak lima gol dalam satu pertandingan melawan Kamerun, meskipun Rusia tersingkir di fase grup meski Salenko tampil gemilang.
Setelah penelitian oleh Mirosław Skaczkowski, terbukti bahwa Gary Lineker adalah yang teratas dalam daftar ini. Di Piala Dunia Meksiko 1986, Lineker meraih Golden Boot dengan mencetak 85,71% dari total gol Inggris. Satu gol lainnya dicetak oleh Peter Beardsley.
Pemain kedua dalam daftar ini bukanlah penyerang tengah. Peter McParland dari Irlandia Utara mencetak lima dari enam gol timnya di Piala Dunia 1958, termasuk dua gol dalam pertandingan imbang 2-2 melawan juara bertahan, Jerman Barat, dan dua gol lainnya saat menang 2-1 melawan Cekoslowakia. Meskipun membawa Irlandia Utara ke perempat final, mereka harus menerima kekalahan 4-0 dari Prancis dalam pertandingan ketiga mereka.
Pemain lain yang juga mencetak lebih dari 60% gol tim mereka di Piala Dunia antara lain Teófilo Cubillas dari Peru, Marcelo Salas dari Chili, Jon Dahl Tomasson dari Denmark, serta Christian Vieri dari Italia. Masing-masing mencetak empat dari lima gol tim mereka di turnamen yang berbeda.
Pemain yang memiliki persentase gol tinggi juga termasuk Luis Artime dari Argentina dengan 75% dan Roberto Baggio dari Italia yang mencetak lima dari delapan golnya di Piala Dunia 1994, termasuk lima dari enam gol di fase knockout.
Dari segi prestasi internasional, Thomas Hässler dari Jerman memenangkan Piala Dunia 1990 dan Kejuaraan Eropa 1996, namun karir klubnya tidak secerah prestasinya di tim nasional. Ia hanya meraih satu trofi Intertoto Cup dengan Karlsruhe, menjadikannya kalah dari prestasi internasional.
Contoh lain adalah Nahuel Molina dari Argentina, yang telah memenangkan Piala Dunia dan dua Copa América, tetapi di level klub belum meraih trofi apapun. Meskipun mendekati kesuksesan domestik dengan Atlético Madrid, ia belum berhasil meraih gelar di level klub.
Di sisi lain, Cristian Romero dari Tottenham memiliki trofi internasional yang sama dengan Molina tetapi dengan satu gelar klub, yaitu Liga Europa 2025. Sementara itu, rekan satu timnya Rodrigo De Paul membawa rasio prestasi negaranya 4:2 setelah memenangkan MLS Cup dan Eastern Conference bersama Inter Miami.
Dengan banyaknya pemain yang memiliki rasio prestasi tinggi di level internasional dibandingkan dengan klub, data ini memberikan gambaran menarik tentang perjalanan karir para pemain di pentas dunia.
Sumber: The Guardian

