ZONAUTARA.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa tanpa peran dirinya, Israel tidak akan bisa bertahan. Pernyataan ini disampaikan saat KTT G7 di Évian-les-Bains, Prancis, menyoroti ketegangan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait upaya damai dengan Iran yang baru saja tercapai pekan lalu.
Ketegangan tersebut semakin meningkat seiring dengan frustrasi Trump atas sikap Netanyahu, meskipun keduanya sebelumnya sempat bekerja sama memerintahkan serangan militer terhadap fasilitas nuklir di Teheran pada 28 Februari lalu. Menurut Newsweek, Selasa (16/6/2026), Trump menyebutkan, “Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan.”
Di sisi lain, Trump juga secara terbuka mengkritik serangan udara Israel baru-baru ini di Lebanon, yang menurutnya terlalu kejam dan menargetkan bangunan sipil. “Saya melihat serangan itu, saya melihat ke mana bom itu jatuh. Itu sangat kejam. Anda tidak perlu meruntuhkan seluruh bangunan apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di sana dan saya pastikan mereka semua bukan Hizbullah,” ujar Trump dengan peringatan agar Netanyahu bertindak lebih bertanggung jawab.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran sendiri memicu kekhawatiran di Israel, dengan kekhawatiran Teheran bisa mendapatkan keuntungan lebih besar. Brigadir Jenderal Yossi Kuperwasser dari Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem mengkritik pemerintahan Trump karena dianggap memberikan terlalu banyak keuntungan bagi Iran tanpa imbalan konsesi yang nyata. “Pemerintah AS memberikan segalanya dengan murah, menyediakan dana miliaran dolar bagi rezim tersebut untuk memperkuat cengkeraman domestiknya dan terus mendanai proksi mereka, seperti Hezbollah dan Hamas, tanpa menuntut konsesi yang nyata dan tidak dapat dibatalkan sebagai imbalannya,” kata Kuperwasser kepada Newsweek.
Ketegangan antara kedua negara ini terjadi di tengah rencana pemilu di Israel yang semakin dekat, menambah lapisan kompleksitas dalam hubungan diplomatik antara AS dan Israel.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

