Tuduhan Pelanggaran Privasi untuk Fitur Baru App Store Apple

Apple dikritik karena rekam detil aktivitas pengguna di App Store untuk rekomendasi aplikasi lebih personal.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Media Indonesia

ZONAUTARA.com – Apple kembali menjadi sorotan terkait dengan isu privasi pengguna setelah memperkenalkan fitur baru di App Store bernama Personalized Collections. Fitur ini dirancang untuk memberikan rekomendasi aplikasi lebih relevan berdasarkan minat dan aktivitas masing-masing pengguna, termasuk dengan memantau interaksi dalam toko aplikasi tersebut.

Di dalam fitur ini, rekomendasi aplikasi akan muncul dalam tab Aplikasi, Game, hingga Pencarian dan terus berkembang mengikuti pola penggunaan serta riwayat unduhan pengguna. Apple menjelaskan bahwa fitur ini adalah cara baru membantu pengguna menemukan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus memberi peluang lebih besar bagi pengembang aplikasi dalam menjangkau audiens.

Peluncuran fitur ini memicu kekhawatiran dari peneliti keamanan siber terkait metode pengumpulan data yang digunakan Apple. Peneliti dari Mysk mengklaim bahwa Apple mengumpulkan data analitik sangat rinci dari aktivitas pengguna di App Store. Melalui posting mereka di platform X, Mysk menyatakan bahwa “Apple kini menerapkan analitik ekstensif yang dapat diidentifikasi yang mereka kumpulkan di App Store. Mereka merekam setiap ketukan dan tidak ada cara untuk mematikannya. Mereka bahkan dapat menghitung kecepatan mengetik Anda,” ujarnya.

Untuk mendukung klaim mereka, Mysk mempublikasikan tangkapan layar yang menunjukkan data analitik yang dikirim App Store ke server Apple ketika pengguna melakukan pencarian. Data yang dikirim termasuk berbagai informasi terkait interaksi pengguna selama menggunakan aplikasi. Fitur Koleksi yang Dipersonalisasi ini menciptakan perdebatan apakah pengguna benar-benar memiliki kontrol atas data pribadi mereka.

Pendapat beragam muncul mengenai apakah praktik pengumpulan data ini melanggar privasi. Meski sebagian pihak menganggap kumpulan data diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan, yang lain berpendapat fitur tersebut seharusnya bersifat opsional. Kasus ini mengingatkan kembali pada perdebatan lama di industri teknologi tentang batas pengumpulan data pengguna demi layanan lebih personal.




Diolah dari laporan Media Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com