ZONAUTARA.com – Muslim Ahmadiyah Indonesia kembali menggelar Jalsah Salanah 2026 sebagai forum tahunan yang meneguhkan komitmen keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kegiatan yang mengusung tema “Wujudkan Ajaran Agama: Dari Seremoni Menjadi Solusi dan Kontribusi” ini berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (3–5 Juli 2026), di Kota Kotamobagu.
Jalsah Salanah wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Sulutenggo) diikuti sebanyak 467 peserta yang merupakan anggota Muslim Ahmadiyah serta tamu undangan dari berbagai kalangan non-Ahmadiyah.

Amir Daerah Sulutgo, Syafrian Topayu, mengatakan Jalsah Salanah bukan sekadar agenda tahunan organisasi, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat pengamalan nilai-nilai agama yang diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
“Melalui tema utama yang diangkat, Muslim Ahmadiyah Indonesia menegaskan bahwa ajaran agama seyogyianya tidak berhenti pada aspek simbolik dan seremonial semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujar Syafrian dalam siaran pers yqang diterima, Minggu (5/7/2026).
Menurutnya, nilai-nilai keagamaan perlu tercermin dalam sikap anti-kekerasan, anti-ujaran kebencian, penghormatan terhadap perbedaan, serta upaya membangun budaya damai, baik di ruang publik maupun di media sosial.

Selama penyelenggaraan, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan seperti ceramah keagamaan, penguatan nilai moral, penguatan cinta tanah air, hingga dialog yang bertujuan memperdalam pemahaman Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang, perdamaian, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Selain itu, Jalsah Salanah 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan sosial sebagai bentuk implementasi nilai-nilai keagamaan. Kegiatan tersebut meliputi donor darah, gerakan kebersihan lingkungan, pelayanan sosial, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat di sekitar lokasi pelaksanaan.

Syafrian menegaskan bahwa persaudaraan dalam Islam harus berjalan beriringan dengan penguatan persaudaraan kebangsaan.
“Jalsah Salana tidak hanya menjadi ruang konsolidasi umat, tetapi juga juang dialog dan kolaborasi lintas elemen bangsa dalam memperkuat kehidupan masyarakat Indonesia yang damai, harmonis, dan berkeadaban,” katanya.
Penyelenggaraan Jalsah Salanah 2026 juga melibatkan berbagai unsur masyarakat. Sejumlah pejabat pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, akademisi, tokoh masyarakat, insan media, pemuda, hingga tokoh publik non-Ahmadiyah turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat dialog, persaudaraan, dan harmoni sosial di tengah keberagaman.
Muslim Ahmadiyah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengedepankan prinsip “Love for All, Hatred for None” atau “Cinta untuk Semua, Kebencian untuk Tak Seorang Pun” sebagai landasan dalam membangun kehidupan sosial yang toleran, damai, dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal.

