Ringkasan
ZONAUTARA.com – Matahari tepat di atas kepala. Terik memantul di jalanan Kawasan Hunian Tetap (Huntap)ย Relokasi Pasca Bencana Erupsi Gunung Ruang di Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Kamis 12 Maret 2026. Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Tanah kering berdebu. Di tengah panas itu, tiga anak berlarian tanpa alas kaki. Debu mengepul di belakang langkah mereka.
Desta Natanael Sadaikum, 12 tahun, berlari paling depan. Ia menoleh ke belakang sambil tertawa. Di belakangnya, Garry Tatadia (10) dan Boy (9) ikut mengejar. Langkah mereka ringan, seolah panas siang tak terasa.
โSo suka sekali mo sekolah (sudah ingin sekali bersekolah),โ kata Desta singkat, Kamis 12 Maret 2026..
Ketiganya kini tinggal di Huntap Modisi, kawasan relokasi bagi warga penyintas erupsi Gunung Ruang. Sebelumnya mereka tinggal di Kampung Laingpatehi, Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).
Setelah erupsi pada April 2024, mereka diungsikan ke rumah susun Sagrat di Kota Bitung, sebelum akhirnya dipindahkan ke hunian tetap di Bolsel. Perpindahan itu membuat pendidikan anak-anak ikut terganggu. Hampir dua tahun sejak erupsi, proses belajar mereka belum sepenuhnya kembali normal.
โDulu waktu di pengungsian sempat belajar lagi. Tapi di sini belum, sekolah belum buka,โ ujar Desta.
Anita Awumbas, (34), ibu Desta, mengaku khawatir melihat kondisi tersebut. Sejak pindah ke Huntap sekitar sebulan lalu, anaknya belum kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.โSebulan di sini belum sekolah. Sekolahnya masih belum dibuka. Kalau dititip ke sekolah di desa tetangga juga jauh,โ kata Anita.

Neno Karlina Paputungan 