Ringkasan
ZONAUTARA.com – Kekhawatiran menyelimuti warga penyintas erupsi Gunung Ruang yang kini menempati Hunian Tetap (Huntap) di Desa Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Mereka mengeluhkan layanan kesehatan yang belum berjalan, meski fasilitas kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu) telah dibangun.
Kondisi ini menimbulkan kerentanan baru bagi warga dan mengindikasikan belum optimalnya pemenuhan kewajiban negara. Dalam sistem kesehatan nasional, negara memiliki kewajiban memastikan setiap warga memperoleh akses layanan kesehatan yang layak.
Konstitusi Indonesia melalui Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu, Pasal 34 ayat (3) UUD 1945 juga mewajibkan negara menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Dalam konteks itu, dampak paling terasa dialami kelompok rentan, terutama ibu dengan anak kecil. Bagi para ibu dengan anak kecil, ketiadaan layanan kesehatan di Huntap Modisi memunculkan kecemasan tersendiri.
Laiknya kebanyakan ibu, Putri Lante mengeluhkan berbagai kekhawatiran terhadap kesehatan sang buah hati sejak direlokasi ke Desa Modisi. Perempuan berusia 21 tahun dengan dua anak ini menceritakan sulitnya mengakses layanan kesehatan. Bersama ratusan warga penyintas erupsi Gunung Ruang dari Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro), dia dan keluarganya dipindahkan ke tempat baru ini pada 13 Februari 2026.
Menurut Putri, fasilitas Pustu hanya dibuka sekali, hanya saat peresmian. Setelah acara yang dihadiri Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, Bupati Bolsel Iskandar Kamaru, dan Bupati Sitaro Chyntia Inggrid Kalangit, pusat layanan kesehatan yang ada di hunian tetap itu tidak pernah dibuka lagi. “Walau seadanya, kami harus memiliki persediaan obat sendiri, sebab namanya juga anak-anak, pasti rentan sakit,” ujar Putri, Kamis, 12 Maret 2026.
Sebagai orang baru di Bolsel, Putri mengaku belum pernah pergi ke desa tetangga untuk mencari puskesmas. Karena itu, ia belum mengetahui lokasi fasilitas kesehatan yang tentunya sangat dibutuhkan untuk keluarganya. Terlebih, anak bungsunya Elkana Firasat, yang berusia 1 tahun 3 bulan, baru sekali mendapat imunisasi. Jarak yang jauh juga menjadi kendala.
Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh ibu dengan anak kecil, tetapi juga kelompok rentan lainnya seperti lansia.

Neno Karlina Paputungan 