Memahami kronologi relokasi permanen warga Pulau Ruang

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
👑 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Tanah kering berdebu. Matahari tepat di atas kepala. Di jalanan kawasan hunian tetap relokasi pasca-bencana erupsi Gunung Ruang, tiga anak berlarian tanpa alas kaki. Desta Natanael Sadaikum, 12 tahun, berlari paling depan. Di belakangnya, Garry Tatadia dan Boy ikut mengejar. Langkah mereka ringan, seolah panas siang tidak terasa. 

“So suka sekali mo sekolah (sudah ingin sekali bersekolah),” ujar Desta saat ditemui pada Kamis 12 Maret 2026.

Kalimat pendek yang diucapkan Desta itu menyimpan banyak hal. Ia dan puluhan anak lainnya sudah sebulan tinggal di Huntap Modisi, tapi belum bisa bersekolah. Gedung sekolah sudah berdiri, catnya masih baru, ruang kelas sudah terbentuk rapi. Namun proses administrasi antara Kementerian PUPR, Dinas Pendidikan Kabupaten Bolsel, dan pemerintah daerah asal di Sitaro belum rampung. Serah terima bangunan dari PUPR pusat ke pemerintah daerah belum tuntas.

Persoalan Desta bukan kasus tunggal. Ia adalah penggalan kecil dari persoalan besar yang kini menyelimuti 282 keluarga penyintas erupsi Gunung Ruang. Mereka yang terlempar dari pulau vulkanik di ujung utara Sulawesi, terpaksa hidup hampir dua tahun di pengungsian, kini harus menghadapi ujian baru di kampung yang benar-benar asing.

Join Goha, 50 tahun, mantan warga Desa Pumpente, menyampaikan keresahannya saat ditemui di Huntap pada Kamis, 12 Maret 2026. “Uang tabungan hasil kerja serabutan kami di Bitung, tinggal cukup buat seminggu. Mereka hanya sekali saja antar beras 5 kilogram waktu pertama itu. Setelah itu tidak pernah lagi datang.”




Dana tunggu hunian yang dijanjikan pemerintah sebesar Rp 600 ribu per bulan sudah tidak diterima warga sejak sekitar sembilan bulan. Lahan perkebunan yang dijanjikan bagi setiap keluarga belum tersedia. Layanan kesehatan di puskesmas pembantu belum berjalan penuh. Dari 90 anak usia sekolah yang ada di Huntap, belum satu pun yang menjalani kegiatan belajar tatap muka.

Bagaimana cerita ini bermula? Untuk memahaminya, kita perlu kembali ke suatu malam di bulan April 2024, ketika gunung api di tengah laut itu memuntahkan isi perutnya.

Baca artikel lengkap Memahami kronologi relokasi permanen warga Pulau Ruang di Teras.id

👑 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/memahami-kronologi-relokasi-permanen-warga-pulau-ruang-2124296

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com