Ringkasan
ZONAUTARA.com – Tonny S. Toligaga menjabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) sejak Desember 2023, tepat ketika El Nino membuat produksi padi anjlok ke titik terendah dalam satu dekade. Di tengah kesibukannya. ia menerima tim Zonautara.com di kantornya, Senin 6 April 2026.
Dalam kesempatan itu, Tonny meladeni wawancara yang berlangsung selama hampir empat jam. Dia menjawab sejumlah pertanyaan, dimulai dari tantangan mendasar sektor pertanian hingga apa yang menjadi inti dari topik liputan kami kali ini: apakah Bolmong masih layak disebut lumbung beras?
Apa tantangan terbesar sektor pertanian Bolmong saat ini?
Tantangan sektor pertanian saat ini adalah semakin menurunnya tenaga kerja di sektor ini. Harus ada mekanisasi pertanian. Sulut (Sulawesi Utara) punya 15 kabupaten kota dengan kondisi pertanian yang berbeda. Misalnya ada pembagian bantuan fasilitas pertanian. Sangihe yang mungkin hanya punya 60 hektar lahan dan Bolmong yang punya 21 ribu hektar dapatnya sama. Ini kondisi yang sangat disayangkan.
Dulu tradisi momosad masih ada, sekarang kerja gotong royong itu sudah sangat jarang, karena mereka memilih bekerja di sektor lain. Dan kondisi ini merugikan sektor pertanian.
Toligaga menyebut rasio alat mesin pertanian terhadap potensi lahan yang ada masih sangat timpang. Dalam dokumen RPJMD Bolmong 2025โ2029, kabupaten ini tercatat memiliki 21.503 hektar padi sawah, terbesar di Sulawesi Utara, namun anggaran pemeliharaan irigasi dari APBD 2026 kosong, tidak dianggarkan.
Bolmong mengalami penurunan produksi padi yang cukup tajam pada 2023. Apa yang terjadi?
Penurunan terjadi pada 2023 karena dampak El Nino, karena ada beberapa bulan musim kemarau. Saya juga baru masuk di Dinas Pertanian pada Desember 2023.

Ronny Adolof Buol 