Tanah yang mengeras: Cerita tiga generasi petani Bolaang Mongondow

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses Freemium di Teras.id.
πŸ”‘ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Matahari sedang terik ketika Mickhael Adityo Lamber mengumpulkan bulir jagung di salah satu bak penjemuran gilingan di Desa Langagon Dua, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kamis, 9 April 2026. Permukaan semen memantulkan panas yang menyengat, sementara angin yang berhembus terasa kering dan tipis, seolah tak cukup memberi jeda bagi tubuh yang bekerja.

Di hadapannya, butiran jagung menguning tersebar tidak merata. Dengan gerakan yang berulang, Michael merapikan jagung ke satu sisi. Pemuda berusia 19 tahun itu bekerja tanpa banyak bicara, sesekali berhenti hanya untuk mengelap keringat yang mengalir dari pelipis ke dagu.

Tak jauh dari situ, ibunya, Risma Sani duduk di samping bak, berteduh dari panas. Tangannya sibuk melinting tembakau. β€œKalau mau beli bibit jagung tapi beras di rumah tidak ada, ya terpaksa uangnya harus beli beras dulu,” kata perempuan berusia 44 tahun itu sambil tertawa.

Sementara itu, ayah Michael, Agustinus Lamber, 47 tahun, berdiri tak jauh dari mereka. Ia sesekali membantu meratakan bulir jagung yang dijemur, lalu kembali mengamati hasil panen yang terhampar di depan mereka. Dia tampak menghitung hasil panen. 

Perubahan komoditas tanaman pangan itu tidak terjadi dalam waktu singkat. Bagi Agustinus, yang sebelumnya petani padi basah, beralih dari padi ke jagung bukan keputusan yang diambil dalam satu musim. Itu adalah hasil dari pertimbangan panjang, pengalaman gagal panen, dan tekanan biaya yang terus meningkat.




Baca artikel lengkap Tanah yang mengeras: Cerita tiga generasi petani Bolaang Mongondow di Teras.id

πŸ”‘ Baca di Teras.id β†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/jeda/tanah-yang-mengeras-cerita-tiga-generasi-petani-bolaang-mongondow-2129009

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com