ZONAUTARA.com – Krisis listrik yang berkepanjangan di Kuba memaksa warga Havana untuk menghadapi lebih dari 24 jam tanpa listrik sejak Jumat (10/7/2026). Situasi tersebut semakin memperparah kondisi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, di mana ribuan warga harus bertahan hidup di tengah panas dan kegelapan.
Frank Alfonso, seorang warga berusia 39 tahun, mengatakan bahwa hampir setiap malam dia terpaksa tidur di atap rumahnya untuk menghindari hawa panas akibat seringnya pemadaman listrik. “Namun, hujan yang turun bersamaan dengan kolapsnya jaringan listrik pada Jumat sore membuat saya kehilangan satu-satunya tempat yang terasa lebih sejuk,” ungkap Alfonso yang tinggal di salah satu solares, kompleks rumah susun tua di Havana.
Menurut banyak warga, pemadaman yang sebelumnya hanya terjadi sesekali kini berlangsung hampir tanpa henti, diperparah oleh terbatasnya pasokan bahan bakar setelah blokade minyak yang diberlakukan Amerika Serikat. Di apartemen lantai pertama di gedung yang sama, Thalia Castillo berusaha menjaga kenyamanan bayinya yang baru berusia tiga bulan menggunakan kipas angin kecil bertenaga baterai untuk mengurangi panas dan mengusir nyamuk saat menyusui.
Di sisi lain, tanpa pendingin yang berfungsi, persediaan daging beku di dalam freezer mulai mencair. Castillo harus berulang kali membersihkan cairan bercampur darah yang merembes dari daging ke dalam lemari es agar bahan makanan yang tersisa tidak semakin rusak.
Meski listrik belum pulih hingga Sabtu malam (11/7/2026), warga tetap berusaha mencari hiburan. Juan Pablo Plat dan para tetangganya menyalakan generator untuk menyalakan televisi dan menyaksikan pertandingan sepak bola di jalan, sementara sebagian besar kawasan dan jalan raya pesisir Havana masih dalam kegelapan, mencerminkan krisis listrik yang membayangi Kuba.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

