Petani perempuan Bolaang Mongondow menghadapi beban ganda

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap.
🔓 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Suara burung bersahutan di atas hamparan sawah. Rafia Potabuga, 52 tahun, berdiri di tengah petak lahan yang ia garap, bersama empat orang petani yang membantunya memanen padi. Hari mulai gelap, dan mereka bersiap pulang setelah tiga hari berturut-turut menyelesaikan panen yang menurut dia sudah terlambat. Kesulitan mengakses peralatan mesin panen menjadi kendala.

“Ini terlambat panen,” kata Rafia dibarengi napas berat saat ditemui di sawah garapannya di Desa Langagon Induk, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong),  Kamis, 9 April 2026.

Langkahnya cepat menyusuri jalan tanah yang retak-retak. Di kejauhan, hamparan sawah tampak kusam, tak lagi memantulkan langit seperti dulu. Persoalan yang ia hadapi bukan hanya soal waktu panen. Rafia juga mengeluhkan kondisi irigasi yang semakin memburuk. 

Air yang biasanya mengalir kini hanya menyisakan lumpur kering yang mengeras. Saluran irigasi perlahan mati, terutama saat musim kemarau.

Rafia berhenti di pematang, menatap tanah yang tak lagi bisa diandalkan untuk ditanami. Ia bercerita, yang hilang bukan sekadar hasil panen, tetapi juga ritme hidup yang selama puluhan tahun dijalaninya. Seperti banyak perempuan tani lain di Bolmong, Rafia harus berpikir keras.




Baca artikel lengkap Petani perempuan Bolaang Mongondow menghadapi beban ganda di Teras.id

🔓 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/jeda/petani-perempuan-bolaang-mongondow-menghadapi-beban-ganda-2129574

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com