INFOGRAFIS: Lumbung yang menyusut

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses Freemium di Teras.id.
🔑 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Dari foto udara, sawah-sawah di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) masih terlihat hijau. Tapi data citra satelit Landsat yang dianalisis untuk rentang 21 yang diolah dari MapBiomas Auriga Nusantara, merekam apa yang tidak tampak dari permukaan. Sejak 2017, hamparan sawah itu perlahan menyusut, digantikan oleh jalur-jalur kuning ladang jagung, bercak-bercak kebun nilam, dan satu noda gelap baru yang sebelumnya tidak ada sama sekali, yakni lubang tambang, tumbuh dari nol menjadi 268 hektar dalam dua dekade.

Kabupaten Bolmong memang masih bisa disebut sebagai lumbung beras untuk Provinsi Sulawesi Utara. Tapi lumbung itu sedang berubah bentuk, dan hampir tidak ada yang resmi mencatatnya dengan jujur.

Angka-angka yang seharusnya menjadi dasar kebijakan justru menjadi sumber kebingungan. Dua Peraturan Daerah (Perda) yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Bolmong pada tahun yang sama, yakni Perda RPJMD Nomor 3/2025 dan Perda RPJPD Nomor 1/2025, mencatat produksi padi tahun 2022 dengan selisih hampir tiga kali lipat: 392.080 ton versi Dinas Pertanian versus 137.208 ton versi BPS (Badan Pusat Statistik). Angka dari data Kementerian Pertanian RI memihak BPS. Tidak ada penjelasan dalam dokumen manapun. Inkonsistensi itu tidak diperbaiki sebelum disahkan, dan kini berkekuatan hukum, menjadi fondasi perencanaan pembangunan kabupaten hingga 2045.

Di lahan-lahan yang diperdebatkan angkanya itu, para petani sudah lama mengambil keputusan sendiri. Di Desa Langagon, Agustinus Lamber meninggalkan padi dan beralih ke jagung, bukan karena tidak mau, melainkan karena bertani sawah butuh modal yang tidak ia punya, air yang tidak mengalir, dan pupuk yang tidak bisa ia beli tanpa masuk kelompok tani yang pengurusnya bermasalah.

Di Kopandakan, Rukmantik Agantu memilih nilam setelah bertahun-tahun berjibaku dengan irigasi yang airnya harus diperebutkan dengan petani dari sumber sepuluh kilometer jauhnya. Di Langagon Induk, Rafia Potabuga tetap bertahan di sawah, bukan karena untung, melainkan karena sudah terlilit utang ke pemodal dan tidak punya pilihan lain. “Gali lobang, tutup lobang,” katanya.




Baca artikel lengkap INFOGRAFIS: Lumbung yang menyusut di Teras.id

🔑 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/infografik/zonautara-com/rubrik/perspektif/infografis-lumbung-yang-menyusut-2129982

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com