ZONAUTARA.com – Pada Rabu malam (12/7/2026), Inggris mengalami kekalahan dalam semifinal Piala Dunia melawan Argentina dengan skor 1-0. Momen ini mengguncang harapan banyak penggemar yang mengandalkan performa para pemain bintang dan pelatih Jerman, Thomas Tuchel, untuk membawa timnya ke final.
Selama dua tahun terakhir, banyak yang menghabiskan waktu dan uang untuk mendukung tim nasional, mulai dari tiket pertandingan, akomodasi, hingga berbagai barang merchandise. Namun, semua pengorbanan tersebut berujung pada kekecewaan saat Inggris tidak mampu mempertahankan keunggulan di babak semifinal.
Dalam pertandingan tersebut, Inggris sempat unggul 1-0 berkat gol dari Anthony Gordon, tetapi tekanan dari Argentina membuat situasi semakin sulit. Meski Inggris sempat menekan, keputusan Tuchel untuk tidak melakukan perubahan taktis yang signifikan pada saat-saat krusial menjadi sorotan. Banyak yang merasa bahwa tim Inggris sudah tertekan sebelum Argentina berhasil mencetak gol penyama kedudukan.
Dalam analisis pertandingan, terlihat bahwa meskipun Argentina mendominasi, Inggris memiliki peluang untuk memperbesar keunggulan. Namun, keputusan Tuchel untuk tetap mempertahankan beberapa pemain kunci yang kelelahan, seperti Harry Kane, dianggap sebagai kesalahan fatal. Alih-alih mengganti mereka dengan pemain segar seperti Ollie Watkins atau Bukayo Saka, Tuchel justru membuat pilihan yang mengurangi peluang Inggris untuk bertahan.
Setelah jeda minum kedua, Inggris hanya menguasai bola kurang dari 8% dan menyelesaikan hanya lima umpan dalam 25 menit, menunjukkan ketidakmampuan tim untuk keluar dari tekanan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai filosofi permainan Tuchel yang terkesan defensif, bertentangan dengan semangat juang yang pernah ia tanamkan di awal turnamen.
Dalam pernyataannya setelah pertandingan, Tuchel mengklaim bahwa penguasaan bola bukanlah bagian dari DNA tim Inggris, pernyataan yang banyak dianggap meragukan. Dengan pemain-pemain seperti Declan Rice, Bukayo Saka, dan Reece James yang terbukti mampu menjaga penguasaan bola di level klub, banyak yang mempertanyakan pendekatan ‘safety-first’ yang diambil Tuchel.
Penggemar Inggris merasa dikhianati oleh pendekatan yang terlalu defensif, merindukan gaya permainan menyerang yang pernah ditampilkan di turnamen sebelumnya. Kekecewaan ini semakin mendalam ketika dikaitkan dengan harapan yang tinggi terhadap tim yang diisi oleh pemain-pemain berbakat.
Sumber: The Guardian

