ZONAUTARA.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) menginisiasi langkah penting dengan mendorong edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren. Upaya strategis ini bertujuan untuk menekan angka kekerasan seksual serta meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi di kalangan remaja, terutama para santri.
Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat, Alissa Wahid, menegaskan betapa pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi demi membangun pemahaman yang tepat di ekosistem pesantren. “Kita ingin segera mengantisipasi dan mempersiapkan ekosistem pesantren agar pemahaman terkait kesehatan reproduksinya lebih baik sehingga kita bisa menanggulangi persoalan kekerasan seksual yang ada di pesantren,” ujar Alissa dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Alissa menekankan banyaknya kekeliruan di masyarakat yang hanya mengaitkan kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual, sementara cakupannya jauh lebih luas mencakup kesehatan dasar seperti angka kematian ibu, bayi, dan anak serta anemia pada remaja yang berdampak pada proses reproduksi kelak. “Dikira kesehatan reproduksi itu melulu hanya soal perilaku seksual, padahal kesehatan reproduksi juga bicara angka kematian ibu, bayi, dan anak. Kemudian, juga berbicara mengenai anemia pada anak-anak muda yang akan memengaruhi proses reproduksinya ketika nanti sudah menikah,” jelasnya.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan, Evi Nilawaty, menyatakan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan instrumen penting untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan mencegah stunting di Indonesia. Target penurunan AKI menurut data Kementerian Kesehatan adalah dari 183 per 100.000 kelahiran hidup pada 2024 menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030, sesuai dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Abdul Barri, menilai bahwa pendidikan ini sangat penting bagi santri yang memasuki masa pubertas, dan beliau menggarisbawahi perlunya pendampingan dari figur otoritas seperti kiai, nyai, serta pembimbing asrama agar materi tersampaikan sesuai nilai pesantren.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

