ZONAUTARA.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendesak peran aktif para bendesa atau pemimpin adat dalam mencegah terulangnya kasus main hakim sendiri yang terjadi di Kabupaten Tabanan, Bali. Imbauan ini menyusul insiden pengeroyokan hingga tewas terhadap seorang terduga pencuri ayam di wilayah tersebut.
Koster menegaskan, “Saya akan berbicara dengan bendesa di sana dan bendesa lainnya agar memberi pemahaman kepada warganya untuk tidak lagi melakukan tindakan seperti itu,” pada Selasa (28/7). Pernyataan ini disampaikan usai menghadiri rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bali yang membahas evaluasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Insiden pengeroyokan yang terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, menurut Koster, sebaiknya disikapi dengan bijaksana, mengedepankan aspek kemanusiaan, dan mempercayakan proses hukum kepada pihak yang berwenang. Ia menekankan bahwa setiap pihak harus menjaga situasi di desa masing-masing serta menghindari reaksi berlebihan.
Gubernur Koster menambahkan, kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Bali harus dijaga melalui kesadaran kolektif warga untuk menghormati supremasi hukum. “Semua pihak harus menjaga situasi di desa masing-masing dan tidak perlu terlalu reaktif. Jika ingin melakukan tindakan pencegahan kejahatan, rasa kemanusiaan tetap harus dijaga, tidak boleh menghakimi sendiri,” ujarnya.
Penanganan kasus pengeroyokan di Baturiti telah diserahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian. Kapolda Bali melaporkan bahwa tim penyidik telah mengamankan lima orang terduga pelaku untuk pemeriksaan intensif. Selain itu, penyidik juga mendalami dugaan keterlibatan pihak lain yang mungkin memprovokasi pengeroyokan tersebut.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

