ZONAUTARA.com – Para pengamat langit di seluruh dunia dapat menikmati fenomena astronomi menakjubkan malam ini, Rabu (29/7), ketika Bulan purnama bulan Juli, yang dikenal sebagai Buck Moon, muncul dengan penampilan terbaiknya saat terbit di ufuk timur.
Kemunculan Buck Moon kali ini menjadi bulan purnama reguler terakhir sebelum dimulainya rangkaian fenomena gerhana ganda yang dijadwalkan terjadi pada Agustus mendatang, yakni gerhana matahari total dan gerhana bulan sebagian.
Saat terbit, Bulan purnama kerap memperlihatkan rona oranye atau kemerahan, efek visual ini merupakan hasil dari pembiasan cahaya di atmosfer, dikenal sebagai Rayleigh scattering. Ketika Bulan berada di dekat cakrawala, cahayanya harus menembus atmosfer lebih tebal, menyaring gelombang cahaya biru dan membiarkan gelombang merah serta oranye mencapai mata pengamat.
Nama Buck Moon berasal dari tradisi penduduk asli Amerika yang merujuk pada musim ketika tanduk rusa jantan (buck) mulai tumbuh kembali setelah tanggal. Selain itu, bulan purnama Juli ini juga dikenal sebagai Thunder Moon, karena sering bersamaan dengan banyaknya badai petir di belahan bumi utara selama puncak musim panas.
Buck Moon ini menutup rangkaian bulan purnama sebelum dimulainya “musim gerhana” pada Agustus mendatang, yang ditandai dengan gerhana matahari total dan gerhana bulan sebagian. Bagi mereka yang ingin menyaksikan keindahan Buck Moon, waktu terbaik adalah sesaat setelah matahari terbenam saat Bulan baru saja terbit di ufuk timur. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang saat kondisi langit cerah.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

