Sulawesi Utara dilanda kemarau dan karhutla

Ratusan hektare sawah terancam gagal panen, lahan perkebunan terbakar.
kemarau
Penjual air sedang membantu warga mengangkut jerigen berisi air bersih, di kampung Kawahang, Siau Barat Utara. (Foto: Ronny A. Buol)
kemarau

zonaX

Sulawesi Utara dilanda kemarau dan karhutla

Ratusan hektare sawah terancam gagal panen, lahan perkebunan terbakar.

ZONAUTARA.com – Gelombang musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino berintensitas kuat melanda wilayah Sulawesi Utara (Sulut). Kondisi iklim ekstrem ini tak hanya memicu krisis air dan mengancam kegagalan panen pada ratusan hektare lahan pertanian warga, melainkan juga memicu maraknya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai kabupaten dan kota.

Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas, menyatakan bahwa wilayah Sulawesi Utara mulai memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026. Berdasarkan pemutakhiran data per 1 Agustus 2026, Hari Tanpa Hujan (HTH) di Sulut didominasi kriteria pendek di 56 lokasi, kriteria panjang di 48 lokasi, serta 13 lokasi HTH sangat panjang yang sudah tidak mengalami hujan lebih dari 60 hari.

“Saat ini El Nino memasuki fase sangat kuat pada Agustus–Oktober 2026. Wilayah Sulut diprediksi didominasi curah hujan rendah dengan peluang sangat tinggi mencapai 80 hingga 90 persen pada Dasarian I Agustus hingga Dasarian I September 2026,” terang Aris.

BMKG pun telah menetapkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis dengan status Siaga di delapan daerah, mencakup Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur, Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Siau Tagulandang Biaro, Kota Manado, dan Kota Bitung.

Dampak kemarau mendalam ini memukul keras pada sektor pertanian. Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Dinas Pertanian setempat mencatat sebanyak 745,45 hektare lahan persawahan warga yang tersebar di enam kecamatan mengalami kekeringan berat dan terancam gagal panen.

kemarau
Kebakaran lahan di Inobonto, Bolaang Mongondow pada 1 Agustus 2026. (Foto: ist)

Kadis Pertanian Boltara, Syarifuddin, mengungkapkan bahwa Kecamatan Pinogaluman menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas 303,07 hektare di 13 desa, disusul Kecamatan Bintauna seluas 263,75 hektare. Wilayah lain yang turut terdampak meliputi Kecamatan Sangkub (93 ha), Kaidipang (40,89 ha), Bolangitang Barat (33,28 ha), serta Bolangitang Timur (11,46 ha).

“Penyebab gagal panen karena sebagian besar lahan persawahan milik petani mengalami kekeringan akibat berkurangnya sumber air, ditambah adanya pekerjaan perbaikan pada sejumlah saluran irigasi,” jelas Syarifuddin.

Kondisi serupa dialami daerah lain. Kepala Balai Perlindungan dan Pengujian Hortikultura, Nova Sumolang, membeberkan bahwa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) terdapat 84 hektare lahan masuk kategori kekeringan ringan. Sementara di Kabupaten Minahasa Selatan, 14,5 hektare tanaman jagung mengalami kekeringan, dan di Kota Bitung sebanyak 2 hektare tanaman jagung dipastikan gagal panen.

kemarau
Peta: Tim Data Zonautara.com, diolah dari informasi BMKG.

Menyikapi ancaman krisis pangan ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bergerak cepat. Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling (YSK) menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/26.2035/Sekr-DiSTANAK tentang Antisipasi Dampak Kemarau terhadap Produksi Pertanian. Gubernur YSK menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota untuk memetakan wilayah rawan, merehabilitasi sarana irigasi, serta mengusulkan kelompok tani terdampak agar mendapatkan bantuan pompa air dari pemerintah pusat.

“Ketahanan pangan menjadi prioritas pemerintah. Saya meminta seluruh kepala daerah bergerak cepat, memetakan wilayah rawan kekeringan, mengoptimalkan seluruh infrastruktur irigasi yang ada, dan memastikan petani mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Jangan sampai kemarau mengganggu produksi pangan masyarakat Sulawesi Utara,” tegas Gubernur YSK.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, Nova Pangemanan, menambahkan bahwa Pemprov Sulut telah menyiapkan 106 unit irigasi perpompaan, 24 unit irigasi perpipaan, serta membangun 39 unit embung, parit, dan long storage. Berkat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Sulut kembali mendapatkan tambahan 42 unit irigasi perpompaan serta pembangunan jaringan irigasi tersier sebanyak 70 unit pada tahap pertama dan 62 unit pada tahap kedua.

Di sisi lain, Kepala UPTD BPTP Dinas Perkebunan Daerah Sulut, Jouke Kumendong, menyampaikan bahwa pihaknya memilih menunda penyaluran bibit kelapa, pala, kakao, dan sagu guna menghindari kematian bibit akibat ketiadaan air.

kemarau
Apel Gelar Pasukan Tanggap Bencana Dampak El Nino Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Apel Mapolda Sulawesi Utara, Selasa (4/8/2026). / Foto: Kominfo Pemprov Sulut.

Hutan terbakar

Selain kekeringan, ancaman karhutla turut melonjak tajam akibat tumpukan vegetasi kering dan angin kencang. Di kawasan Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, karhutla meluas hingga menganguskan ratusan hektare hutan dan lahan sejak meletus pekan lalu.

Karoops Polda Sulut, Kombes Pol Ferry Raimond Ukoli, melakukan pemantauan langsung via udara menggunakan helikopter untuk memetakan sebaran titik api dan asap tebal. Pihak Kepolisian Daerah Sulawesi Utara memastikan pemantauan udara terus dilakukan hingga titik api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.

“Di musim kemarau saat ini, pihak kepolisian menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” imbau Kombes Pol Ferry Raimond Ukoli.

kemarau
BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara bersama tim gabungan dalam penanganan karhutla di Kecamatan Silian Raya, Kab. Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin (3/8). / Sumber : BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara

Peristiwa karhutla hebat juga menerjang Kota Bitung. Dalam kurun waktu satu hari pada Rabu (5/8/2026), terjadi lima rentetan karhutla di lima titik berbeda, yakni di Kelurahan Danowudu (Kecamatan Ranowulu), Kelurahan Manembo-Nembo, Perum Temboan ASRI 1 Manembo-Nembo Atas, dekat Pasar Sagerat (Kecamatan Matuari), serta Kelurahan Paceda (Kecamatan Madidir). Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Bitung, Rudij Ponamon, mengonfirmasi bahwa seluruh titik api terbanyak sepanjang Agustus tersebut berhasil dikendalikan oleh personelnya.

Sementara itu di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), dua titik karhutla melalap kawasan perkebunan warga di perbatasan Desa Buyat Selatan-Kotabunan serta Desa Bulawan Satu pada Selasa (5/8/2026). Kebakaran yang diduga dipicu oleh buangan puntung rokok sembarangan ini menghanguskan tanaman produktif warga seperti cengkih, kelapa, pala, dan buah-buahan.

“Banyak tanaman kami seperti kelapa dan cengkih yang terbakar. Kami bisa terancam gagal panen,” keluh Gugun, salah seorang warga terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Boltim, Fitra J Damopolii, menyebut medan menuju perkebunan sangat sulit dijangkau mobil pemadam. Kendati demikian, Bupati Boltim Oskar Manoppo turun langsung memimpin pemadaman bersama tim gabungan hingga api padam.

“Kita turun langsung ke lokasi bersama Tim Damkar, PMI dan mengerahkan 3 unit mobil pemadam. Pemerintah Daerah juga melakukan komunikasi bersama pihak PT. ASA agar dana CSR perusahaan diupayakan untuk pembelian unit Damkar kapasitas 6.000 liter air,” kata Bupati Oskar Manoppo.

Dukungan penuh juga disampaikan Ketua DPRD Boltim Samsudin Dama yang meminta masyarakat menghentikan segala aktivitas pembakaran sampah maupun pembersihan lahan menggunakan api selama cuaca ekstrem berlangsung.

Rangkaian bencana kekeringan dan karhutla yang mengepung Sulawesi Utara menjadi peringatan serius akan dampak nyata perubahan iklim dan fenomena El Nino. Sinergi antara kebijakan pemerintah daerah, kesiapan infrastruktur air, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan tidak memicu api menjadi kunci utama agar ketahanan pangan serta keselamatan warga Sulut tetap terjaga di tengah puncak kemarau ini.

Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com