Kemarau ekstrem El Nino landa Sulawesi Utara: Kebakaran hutan hingga ancaman terhadap pertanian

BMKG memprediksi musim kemarau ini akan berlangsung lebih kering dan panjang, bahkan bertahan hingga awal tahun 2027.
el nino
Ladang jagung di Inobonto, Bolaang Mongondow mengalami gagal panen dampak dari musim kemarau Agustus 2026. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)
el nino

zonaX

Kemarau ekstrem El Nino landa Sulawesi Utara: Kebakaran hutan hingga ancaman terhadap pertanian

BMKG memprediksi musim kemarau ini akan berlangsung lebih kering dan panjang, bahkan bertahan hingga awal tahun 2027.

ZONAUTARA.com – Fenomena iklim El Nino dalam fase sangat kuat yang melanda kawasan Sulawesi Utara (Sulut) kini memicu ancaman bencana hidrometeorologi kering secara meluas. Kombinasi puncak musim kemarau dan kekeringan ekstrem tidak hanya menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat yang melalap ratusan hektare area di Gunung Soputan serta Bolaang Mongondow Timur, tetapi juga memicu krisis air bersih hingga ancaman gagal panen di pelbagai wilayah kabupaten dan kota.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau ini akan berlangsung lebih kering dan panjang, bahkan bertahan hingga awal tahun 2027. Kepala Stasiun Klimatologi Minahasa Utara, Aris Yunatas, mengungkapkan bahwa bulan Agustus hingga Oktober 2026 merupakan puncak fenomena El Nino fase sangat kuat di Sulut.

“Semua wilayah Sulut diprediksi tidak akan mengalami hujan pada Agustus-September 2026,” jelas Aris.

Ia menambahkan bahwa sebagian daerah seperti Dumoga di Kabupaten Bolaang Mongondow dan Motoling di Kabupaten Minahasa Selatan bahkan telah mencatatkan hari tanpa hujan selama lebih dari 35 hari. Akibatnya, peringatan dini kekeringan meteorologi di Sulut yang saat ini berstatus Siaga berpotensi ditingkatkan menjadi Awas.

kemarau
Kebakaran lahan di Inobonto, Bolaang Mongondow pada 1 Agustus 2026. (Foto: ist)

Kebakaran hutan meluas di Gunung Soputan dan Boltim

Dampak cuaca ekstrem ini terkonfirmasi lewat musibah kebakaran hutan dan lahan. Di kawasan Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, data peta satelit Sipongi mencatat setidaknya 713 hektare lahan dan hutan hangus terbakar, dengan rincian 700 hektare merupakan kawasan hutan dan sisanya berada di luar kawasan. Vegetasi yang terbakar didominasi padang ilalang serta sebagian tanaman pohon pinus hasil rehabilitasi.




Kepala Dinas Kehutanan Daerah Sulawesi Utara, Rainier Dondokambey, menyatakan tim gabungan terus melakukan pengukuran dan pembuatan sekat api untuk mencegah titik api merambat ke perkebunan warga. Namun, kondisi topografi Gunung Soputan yang curam menjadi tantangan utama.

“Karena itu petugas menggunakan jet shooter yang dibawa ke kepala api,” terang Rainier, pada Kamis (8/8/2026).

Terkait pemadaman udara (water bombing), pihak pemerintah provinsi belum bisa menerjunkan pesawat lantaran syarat administratif berupa penetapan status tanggap darurat bencana oleh pemerintah daerah setempat masih belum terpenuhi.

Untuk memantau persebaran titik api dari udara, Ditpolairud Polda Sulut telah mengerahkan Helikopter Polisi P-3002. Kapolres Mitra AKBP Handoko Sanjaya menyampaikan bahwa sebanyak 120 personel gabungan dari Polres Mitra hingga Brimob Polda Sulut diturunkan ke lapangan.

“Kami utamakan titik-titik api yang berpotensi mendekati permukiman warga,” tegas Handoko, sembari memastikan permukiman warga hingga saat ini masih aman.

el nini
Bupati Bolaang Mongondow Timur Oskar Manoppo memantau proses penanganan pemadaman kebakaran yang terjadi di sekitar ruas Jalan Buyat-Kotabunan, Rabu siang, (5/8/2026) / Foto: Pemda Boltim

Selain di Minahasa Tenggara, karhutla juga melanda Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), tepatnya di area perbatasan Desa Buyat Selatan dan Kotabunan. Kebakaran tersebut memusnahkan tanaman produktif warga seperti pohon cengkih, pala, kelapa, dan buah-buahan. Akibat akses kendaraan pemadam yang terbatas, Bupati Boltim Oskar Manoppo bersama petugas Damkar, BPBD, PMI, TNI, Polri, dan warga setempat turun langsung melakukan aksi gotong royong memadamkan api secara manual menggunakan wadah air.

Dampak sektor pertanian dan pasokan air

Musim kemarau panjang ini turut memukul sektor pertanian hortikultura dan pangan di Sulawesi Utara. Kepala BPPMTPH Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Nova Sumolang, mengungkapkan krisis air irigasi telah mengancam keberlangsungan tanaman pangan. Di Kecamatan Bolangitang Timur dan Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara), debit irigasi menyusut drastis sehingga tanaman padi sawah tadah hujan terancam puso.

Di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, sekitar 84 hektare lahan terdampak kekeringan kategori ringan. Sementara itu, kondisi lebih parah dialami wilayah Minahasa Selatan dengan 14,5 hektare tanaman jagung masuk kategori berat akibat daun menggulung, serta 2 hektare tanaman jagung di Kota Bitung yang dipastikan gagal panen.

Sebagai langkah peredam krisis, Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut meminta kelompok tani segera mengusulkan bantuan pompa air ke pemerintah pusat. Di saat bersamaan, Dinas Perkebunan Sulut memutuskan menunda penyaluran bibit tanaman. Kepala UPTD BPTP Dinas Perkebunan Daerah Sulut, Jouke Kumendong, mengimbau para petani yang telah menerima bibit kelapa, pala, kakao, dan sagu untuk terus menyiramnya pada pagi dan sore hari agar tanaman tidak mati.

el nino
Peta diolah Zonautara.com dari data BMKG.

Sebaliknya, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Minahasa. Kepala Dinas Pertanian Minahasa, Margaret Ratulangi, menyebutkan bahwa cuaca panas justru menguntungkan petani karena bertepatan dengan masa panen raya di lahan persawahan seluas 5.175 hektare.

“Belum ada laporan gagal panen ini, justru ini adalah masa panen di Minahasa, jadi panas bisa mereka gunakan untuk jemur gabah,” kata Margaret.

Namun, Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Minahasa, Evana Pangkey, mengingatkan para petani sawah tadah hujan di wilayah Sumarayar, Sendangan, dan Sonder untuk menunda masa tanam hingga prediksi hujan turun pada Oktober mendatang.

Di kawasan perkotaan, dampak kekeringan mulai memicu krisis air bersih. Di Kota Manado, warga Lingkungan 3 Sumompo dilaporkan membutuhkan bantuan pasokan air bersih serta bantuan sosial (bansos), yang saat ini tengah dikawal oleh legislator setempat. Sementara di Kotamobagu, warga mengeluhkan suhu pada siang hari yang sangat panas dari biasanya. Padahal Kotamobagu selama ini dikenal sebagai salah satu daerah yang sejuk.

el nino
Persawahan mengering karena terdampak musim kemarau. (Foto: Pantau Iklim/Arman Sani)

Konsolidasi dan mitigasi keselamatan daerah

Menanggapi eskalasi ancaman El Nino, pelbagai pemerintah daerah dan kepolisian di Sulut serentak mengonsolidasikan kekuatan melalui apel kesiapsiagaan. Di Minahasa Selatan, Bupati Franky Donny Wongkar, memimpin Apel Gelar Pasukan Tanggap Bencana Dampak El Nino di Mapolres Minsel bersama Kapolres Minsel AKBP David Candra Babega.

Langkah serupa digelar Pemerintah Kota Kotamobagu. Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib, bersama Kapolres Kotamobagu AKBP Abdul Kholik, menyiagakan ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Damkar, Basarnas, Satpol PP, hingga PMI. Weny menekankan pentingnya respons cepat dan langkah preventif guna mencegah potensi kerugian material maupun korban jiwa.

kemarau
Apel Gelar Pasukan Tanggap Bencana Dampak El Nino Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Apel Mapolda Sulawesi Utara, Selasa (4/8/2026). / Foto: Kominfo Pemprov Sulut.

Dari lini pencegahan masyarakat, Polresta Manado mengoptimalkan peran personel Bhabinkamtibmas untuk melakukan edukasi penjangkauan warga. Kasi Humas Polresta Manado IPTU Agus Haryono mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menggunakan air secara bijak.

“Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kebakaran sudah terjadi,” tandas Agus.

Ancaman kemarau panjang El Nino di Sulawesi Utara memerlukan sinergi lintas sektor yang berkelanjutan. Kedisiplinan masyarakat dalam menjaga lingkungan, efisiensi penggunaan air bersih, serta kecepatan tanggap darurat dari pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak krisis lingkungan ini hingga musim penghujan tiba.

Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com