ZONAUTARA.com – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Pemkot Bitung mencatat ada 133 kasus kebakaran sejak medio pertengahan tahun 2026. Angka itu tergambarkan dalam tujuh jenis kebakaran; kebakaran rumah, lahan, listrik, bangunan, tempat sampah, kapal dan motor.
Berdasarkan data Damkar, kebakaran yang piling rentan terjadi adalah kebakaran lahan, sebanyak 70 kasus. Namun, puluhan kasus di data damkar itu belum menggambarkan berapa banyak luas lahan yang terbakar dan kelompok rentan mana saja yang terdampak.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Bitung Altin Tumengkol saat dikonfirmasi tidak menampik dengan jumlah kasus kebakaran lahan yang meningkat.
Altin membeber, kebakaran meningkat dampak dari musim kemarau panjang atau El Nino, sehingga lahan lebih kering dan muda terbakar.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran warga dalam menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang memperburuk situasi. Terutama, terkait potensi kebakaran lahan dan hutan.
“Menghadapi musim kemarau ini masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran sampah dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Dengan langkah-langkah itu semoga bisa mengurangi resiko kebakaran,” jelasnya, Senin (24/8/2026).
Waspada kekeringan
Fenomena iklim ekstrim atau El Nino turut dipantau oleh Dinas Hidup (DLH) Pemkot Bitung. Dinas yang dipimpin Merianti Dumbela itu meminta warga agar lebih waspada soal dampak kekeringan.
Merianti menyatakan, beberapa wilayah di Bitung mulai kekurangan debit air. Sehingga, katanya, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak.
“Di beberapa wilayah memang sudah berkurang. Jadi ini harus waspada, perlu secara bijak menggunakan air bersih,” kata Merianti saat dikonfirmasi Zonautara.com.
Pun demikian, Merianti belum membeber secara detail wilayah-wilayah mana saja yang telah terdampak dengan kekurangan debit air.

