Pertemuan para intelektual di Bandung gugah kesadaran pembangunan manusia

Pertemua digelar ileh Forum Intelektual Antardisiplin.

Editor: Redaktur
Forum Intelektual Antardisiplin yang digelar di Bandung. (Foto: Panitia)

BANDUNG – Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD) menyelenggarakan pertemuan yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, guru, praktisi, pekerja, petani, hingga perwakilan pemerintah di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, pada hari Minggu (27/9/2026).

Acara ini bertujuan untuk membedah persoalan strategis bangsa dengan fokus utama pada pendidikan dasar dan menengah, ketenagakerjaan, pertanian, serta paradigma negara kepulauan.

Pertemuan ini dibuka oleh Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Susi Dwi Harijanti, dan ditutup oleh Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Premana W. Premadi.

Melalui perjumpaan antara pengetahuan akademik dan pengalaman riil di lapangan, forum ini menghasilkan satu kesimpulan penting, yakni pembangunan Indonesia tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan efisiensi regulasi, tetapi harus menjadikan manusia sebagai subjek utamanya dengan mempertimbangkan konteks sosial, wilayah, dan lingkungan.

Pendidikan kritis dan otonomi guru

Dalam sesi pendidikan yang dipimpin oleh Prof. Premana Premadi, peserta menyepakati bahwa sistem pendidikan tidak boleh disempitkan sekadar pada kegiatan transfer pengetahuan teknis atau sains. Pendidikan didorong untuk mampu membentuk kemampuan berpikir kritis, membangun peradaban, dan mengajarkan keadaban.




Forum ini juga mengkritik sentralisasi kurikulum dan mengusulkan adanya otonomi kontekstual, di mana sekolah serta daerah diberikan keleluasaan untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kondisi geografis dan budaya setempat.

Pembenahan pendidikan dinilai tidak perlu berfokus pada pergantian nama kurikulum, melainkan pada evaluasi dampaknya terhadap siswa dan kesiapan guru. Di samping itu, guru juga dituntut memiliki otonomi profesional agar dapat berperan sebagai fasilitator pemikiran kritis, bukan sekadar pelaksana kebijakan birokrasi.

Sebagai jembatan menuju dunia kerja, pendidikan juga dinilai harus membekali para siswa dengan “radar eksploitasi”. Hal ini penting agar para lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga sadar akan hak-hak mereka, memahami sistem kontrak kerja, serta terhindar dari risiko perdagangan orang dan kerja paksa.

Perlindungan pekerja di era transformasi teknologi

Sejalan dengan isu pendidikan, diskusi ketenagakerjaan yang difasilitasi oleh M. Isnur dan Asfinawati menyoroti kerentanan yang terus meningkat di berbagai sektor pekerjaan, termasuk pada pekerja platform, pekerja migran, hingga pekerja sektor pendidikan. Transformasi ekonomi dan teknologi nasional diimbau agar berpusat pada keadilan sosial dan tidak semata-mata berorientasi pada upah murah.

FIAD juga menyoroti isu kesejahteraan pekerja kampus, di mana masih banyak dosen maupun tenaga non-dosen yang diupah di bawah standar. Oleh karena itu, forum ini mendorong pengawalan terhadap proses judicial review UU Guru dan Dosen, serta mendesak adanya reformasi tata kelola perguruan tinggi demi menjamin kebebasan akademik.

Untuk menunjang kepastian hak pekerja, para peserta juga menuntut agar pengawas tenaga kerja di tingkat negara memiliki anggaran yang memadai serta sistem akuntabilitas yang baik.

Menyelamatkan regenerasi petani

Pada sektor pertanian yang difasilitasi oleh Silvia Irawan dan Mansuetus Darto, FIAD menyoroti minimnya kesejahteraan petani yang berimbas langsung pada ancaman krisis regenerasi petani muda. Ekspansi korporasi dan ketidakpastian harga hasil tani membuat kegiatan pertanian ditinggalkan.

Forum ini mendesak agar petani diposisikan sebagai individu berdaulat yang menjadi subjek utama kebijakan pertanian, bukan sekadar penerima bantuan. Selain itu, regulasi terkait perlindungan petani dan reforma agraria yang sudah ada didorong untuk segera diimplementasikan secara nyata di lapangan.

Hasil dari seluruh pertemuan lintas disiplin ini nantinya akan dirumuskan menjadi sebuah policy brief dalam dua hingga tiga bulan ke depan. FIAD menegaskan bahwa kegiatan yang mereka lakukan murni merupakan gerakan moral komunitas intelektual dalam merespons persoalan bangsa demi mewujudkan cita-cita konstitusi, dan bukan merupakan ajang politik praktis.

Share This Article
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com