ZONAUTARA.com — Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang melanda Indonesia selama tahun 2026 telah memicu krisis berskala nasional.
Menurut Koalisi Indonesia Tanpa Polusi, masalah ini kini bukan hanya persoalan area hutan yang terbakar, tetapi juga menimbulkan darurat polusi udara dan ancaman kesehatan bagi masyarakat.
Dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (1/10/2026), Koalisi menyatakan bahwa kebakaran kini meluas ke pulau-pulau di luar Sumatra dan Kalimantan, termasuk Jawa, Sulawesi, hingga Papua.
Data Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi Kementerian Kehutanan mengungkapkan bahwa dari Januari hingga Juli 2026, sudah 202.004,30 hektare lahan terbakar, meningkat 69 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Niño dan musim kemarau panjang.
Syafiq Gumilang dari Pantau Gambut menyoroti lemahnya pengawasan dan penegakan hukum sebagai penyebab utama, sementara Belgis Habiba dari Greenpeace Indonesia menyatakan, “Karhutla tahun ini adalah mesin pencetak polusi udara yang mematikan.”
Kementerian Kesehatan melaporkan 113.336 kasus ISPA, termasuk 26.545 pada anak balita, terjadi di 63 kabupaten/kota terdampak. Penyebaran asap beracun bahkan dilaporkan mencapai negara-negara tetangga.
Kekhawatiran lainnya adalah meluasnya kebakaran ke wilayah timur Indonesia, termasuk Sulawesi dan Maluku, yang merusak ekosistem dan kehidupan masyarakat lokal.
Protes tentang kerentanan ekosistem kepulauan dan ancaman terhadap biodiversitas juga disuarakan, dengan desakan agar penanganan tidak lagi reaktif.
Koalisi mendesak pemerintah untuk lebih transparan dalam perizinan lahan dan tegas dalam penegakan hukum bagi pelanggar.

